Kamis, 07 November 2019

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa  sallam melarang perayaan maulid Nabi.

Perayaan maulid Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- masih menjadi polemik diantara umat Islam, ada yang melarang dan ada yang menganjurkan.
Hal tersebut seharusnya tidak perlu terjadi karena sudah ada keterangan dan dalil yang jelas dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang itu.
Apa dalilnya :
Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku. HR. Muslim no. 1162
Hadits ini menegaskan bahwa pada hari senin, hari kelahiran Nabi dianjurkan berpuasa, maka hadits ini menunjukkan larangan perayaan (ied) pada hari kelahiran Nabi, karena saat perayaan hari raya, hari besar keagaamaan umat Islam kita dilarang berpuasa.
Dari Abu Sa’id Al Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari raya atau hari besar umat Islam yaitu Raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.”
(HR. Muslim no. 1138)
Maka hadits ini jelas menunjukkan larangan menjadikan hari maulid nabi sebagai hari besar atau hari perayaan yang rutin tiap tahun.






Selasa, 05 November 2019


Menghadirkan Energi Ibadah Dalam Keluarga :

SAHABAT KELUARGA-

Ada sebuah kisah nyata dalam keluarga, diceritakan seorang ayah : pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, membuat saya harus keluar kota beberapa hari. Kemudian pulang malam, tidur malam, sehingga bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya.

Yang membuat sedih, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak. Pagi itu saya bangun terlalu siang. Itu saja yang membangunkan Nera, ”Ayah, bangun. Disuruh ibu salat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!” Saya segera bangun mengambil air wudhu, salat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan Mafi dan Nera ke sekolah.

Di tengah jalan saya bertanya, ”Tadi salat Subuh sama siapa?” ”Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak. ”Semalam salat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali. ”Maghrib di musala….,” Mafi menghentikan kata-katanya. ”Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak salat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk.

Selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri. ”Apa yang terjadi dengan salatnya anak-anak selama ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya. ”Anak-anak semangat salatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur,” Istri menjelaskan panjang lebar.

Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: Tidak bisa menghadirkan dan menjaga energi ibadah dan semangat salat anak-anak di keluarga.

Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya dan tidak terkecuali energi dari orangtuanya. Di sinilah, tugas orangtua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah salat.

Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, ”Saatnya salat!” Maka anak-anak akan bersegera salat mengikuti saya. Kami pun berangkat salat berjamaah di musala dengan penuh bahagia. Waktu lainnya di rumah selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan, dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk salat dalam keluarga.

Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat saya sendiri sedang senang dengan salat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama. Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi salat ini diserap dan dipahami oleh anak. Sehingga mereka pun mendapatkan energi salat yang sama dari orangtuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orangtuanya. Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana salatnya tidak ada, itu terjadi karena orangtuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi salat dalam keluarganya.
Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin salat karena orangtua yang setiap hari memberikan contoh dan energi salat juga pada anak-anaknya. Sebaliknya, anak-anak yang perilaku salatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orangtuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orangtuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk salat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin salat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti.

Anak Cerminan Orangtua Di sinilah, menghadirkan semangat salat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin salat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan  memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya salat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan salat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dengan cara ini suasana semangat untuk melakukan ibadah salat diciptakan dan dijaga secara baik.
Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan mereka untuk selalu menunaikan salat sebaik mungkin. Saya pun mendadak teringat kejadian beberapa lalu saat terdengar kumandang adzan. Saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak salat berjamaah. Anak-anak pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami salat berjamaah.
Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan. Saat kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi salat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga secara baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat salatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya. Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniatur kenyataan keimanan orangtuanya.

Jika orangtuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana salatnya secara baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orangtua gagal menghadirkan dan menjaga suasana salatnya secara baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.

Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, ”Nanti selepas anak-anak pulang sekolah hadirkan kembali semangat dan suasan salat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasana salat akan hadir kembali di keluarga kita.” Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertobat dengan sikap-sikap yang istimewa. Semoga menginspirasi.  Silakan bagikan artikel ini:

TwitterFacebookWhatsAppLine.
SDS IT ALFALAH



Orang Tua Dan Anak...
Mari Bersama Belajar Disiplin Waktu.

SAHABAT KELUARGA AL FALAH-

Mendapati anak yang berlari kencang saat memasuki pintu gerbang sekolah, tak ayal membuat hati bertanya-tanya, ada apakah dia berlari sekencang itu? Bahkan peringatan untuk tidak berlari agar tidak jatuh juga tak dia indahkan.

Setelah usut punya usut, ternyata bel sekolah telah berbunyi dan anak tersebut datang terlambat ke sekolah. Sebagai pengganti orangtua di sekolah, Seorang guru langsung menghampiri dan menanyakan penyebab terlambat. Jawaban mereka pun beragam. Ada yang bangun kesiangan, masih menunggu bekal karena belum matang, belum ada yang mengantar bahkan ada yang karena menunggu bajunya di seterika dahulu akibat kemarin pulang sekolah kehujanan.

 Ini hanya sebagian pemicu keterlambatan anak datang ke sekolah. Jika di telusuri kasus tersebut bukan semata-mata kesalahan anak. Namun peran orang tua dan lingkungan terdekat juga dominan dalam mempengaruhi perilaku kedisipinan anak.

Karena dalam teori Islam setiap anak adalah lahir dalam kondisi fitroh yaitu dalam kebaikan.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim)


Oleh sebab itu Pendidikan di rumah dan di sekolah memegang peranan penting dalam mencetak karakter anak. Peran orangtua terutama ibu sangatlah diperlukan. Mengingat ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Melihat kasus anak yang terlambat datang tersebut ada beberapa jurus yang bisa ibu lakukan agar peristiwa tersebut tidak terjadi:
Pertama, mengingatkan agar tidak tidur terlalu malam.

Dunia anak yang identik dengan bermain seringkali membuat mereka terlena hingga melupakan pesan-pesan ibunya. Situasi inilah, kesabaran dan ketelatenan seorang ibu sangat diperlukan. Jangan pernah lelah dan selalu bersabar untuk mengingatkanya. Misalnya, jika saat ini anak sudah dipesan untuk tidur lebih awal dan itu terlaksanakan, sedangkan besok hal itu terlupakan, maka terus ulangi pesan tersebut agar hal itu menjadi kebiasaan.

Kedua, membuat jadwal menu

Upayakan bahan yang dibutuhkan disiapkan sore hari agar pada pagi hari mudah untuk mengolahnya. Pengadaan bahan masakan ini agar  tetap segar bisa dilakukan dengan memesan bahan dasar kepada tukang sayur yang dipercaya dan menyimpannya dalam lemari es. Jangan membeli bahan yang sudah layu atau sudah busuk. Hal ini untuk menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga.

Ketiga, buat jadwal jam mengantar atau menjemput Tepatilah jadwal mengantar dan menjemput anak tersebut. Pembuatan jadwal ini harus disesuaikan dengan jam masuk dan kepulangan anak. Jangan sampai terjadi ketidaksesuaian antara rencana dengan kenyataan, sehingga ada salah satu yang harus menunggu terlalu lama, baik itu orangtua atau anak.

Keempat, cek seragam sepulang sekolah

Karena dunia anak erat sekali bermain maka alangkah baiknya seragam anak dibuat dobel. Mengapa? Ini penting mengingat seringnya baju anak kotor usai belajar atau bermain di sekolah.

Penyampaian materi dengan metode bermain sambil belajar acapkali diinginkan dan diminati anak karena metode itu sangat cocok sekaligus menyenangkannya. Contohnya metode snow ball, petak umpet, market pleace dan lain-lain. Namun, pelaksanaan metode ini berakibat seragam anak seringkali kotor. Apakah kita harus memarahi mereka karena bajunya yang kotor? Tentu tidak. Berani kotor adalah salah satu proses bagi anak untuk menerima kenyataan. Karena tidak semua keinginan baik itu terwujud. Kemungkinan hal terburuk yang tidak kita inginkan juga dapat terjadi. Jadi biarkan mereka menikmati dunianya dan berkembang minat serta bakatnya sesuai usianya dengan di bawah naungan syariat.

Sementara untuk mengantisipasi akan baju kotornya dapat dilakukan dengan menyediakan baju seragam dobel untuk mereka. Demikianlah ketidakdisiplinan anak karena bangun kesiangan, menunggu bekal, belum ada yang mengantar hingga tidak adanya seragam sekolah karena baju masih kotor, bukan murni 100%  kesalahan anak.

Berkat ibu shalihah, cerdas yang selalu kerja keras, ikhlas, dan tuntas semua masalah akan teratasi. Tidak ada keberhasilan tanpa adanya sebuah proses. Dan proses tidak akan pernah membohongi hasil. Untuk itu jangan pernah putus asa untuk melatih anak menjadi disiplin. Semoga dengan jurus melatih kedisiplinan tersebut tidak ada lagi anak-anak yang masih tataran golden age datang terlambat ke sekolah. Salam sehat dan kuat bunda hebat.

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id


Senin, 04 November 2019


Enam Bentuk Kerjasama Orangtua dengan Sekolah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
[at-Tahrîm/66:6]
SAHABAT KELUARGA AL FALAH-

Bukan jamannya lagi orangtua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anaknya ke sekolah. Bukan jamannya lagi pula bila keberhasilan atau kegagalan seorang anak dalam bidang akademik ditentukan sekolah apa atau sekolah di mana.
Bahkan yang sangat disayangkan lagi, ada orang tua yang menghambat kebijakan sekolah yang baik, seperti melarang anaknya piket menyapu misalnya dengan alasan “seperti babu”

 Berbagai survey dan realitas di lapangan, baik di skala internasional maupun skala nasional, menunjukkan, kerjasama antara sekolah dan orangtua siswa didik sangat penting untuk terjaminnya keberhasilan siswa, baik dari sisi akademik maupun karakter.

Terkait kerjasama sekolah dan orangtua peserta didik itu, ada salah satu pertanyaan, seperti apa bentuk kerjasamanya?

menyebutkan, ada enam tipe keterlibatan keluarga atau masyarakat dalam pendidikan di sekolah untuk meningkatkan iklim sekolah dan keberhasilan siswa di sekolah.  

 Enam tipe pelibatan keluarga itu adalah :  

1.   Parenting atau Kelas Orangtua

Parenting ini merupakan kegiatan mengumpulkan para orangtua siswa dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang tumbuh kembang anak hingga dewasa. Hal ini sangat penting agar para orangtua siswa dapat memberikan bantuan yang tepat bagi percepatan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya masing-masing. Kegiatan parenting ini bisa berupa diskusi, ceramah, seminar dan lain-lain kegiatan dengan menghadirkan narasumber yang kompeten, seperti psikolog, atau pendidik.

Lebih baik lagi, jika ada buku panduan khusus, juga ada absensi kehadiran saat kajian “sekolah orang tua” dan ada ujian, tes dan rapor untuk orang tua.

2.     Dialog Kegiatan
dialog ini adalah upaya yaang dilakukan sekolah untuk meningkatkan komunikasi timbal balik atau komunikasi dua arah dengan para orangtua siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan program sekolah dalam meningkatkan hasil belajar dan karakter siswa serta kemajuan/prestasi yang sudah dicapai oleh sekolah dan siswa. Contoh kegiatan ini misalnya sekolah melakukan komunikasi secara teratur, sistematis dan terencana. Dalam kegiatan ini juga terbuka peluang dialog melalui sarana teknologi, seperti telepon, SMS, atau media sosial dengan group WA kelas.  



3.      Buku Pantauan dan Buku Komunikasi

Dalam pembelajaran hafalan Al Qur’an, hafalan hadits, buku panduan menulis Arab dan Latin. Dibuku buku tersebut terdapat kolom orang tua untuk tanda tangan dan memantau perkembangan belajar anak. Juga ada kolom usulan dan saran kepada guru.


4.   Belajar di rumah

Kegiatan ini berupa informasi tentang apa dan bagaimana orangtua membantu anak menciptakan kebiasaan belajar dan budaya belajar yang baik saat di rumah secara terjadwal, kemudian berdiskusi dan selalu berkomunikasi dengan guru berkaitan dengan kesulitan dan perkembangan belajar anak melalui media pribadi.

5.   Musyawarah Kelas

Orangtua siswa diberi peluang untuk terlibat dalam proses pembuatan keputusan di sekolah yang berkaitan dengan program kelas. Berupa penataan kelas, fasilitas kelas, saran prasarana kelas dan lainnya.

Pelibatan orangtua siswa dalam pengambilan keputusan ini menjadi sangat strategis dan bermakna karena mereka merasa dilibatkan dan pada gilirannya mereka merasa memiliki sekolah. Hal ini akan mendorong mereka ikut bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan bersama tersebut.

SDS IT ALFALAH