Selasa, 25 September 2018


Ingin Anak Rajin Beribadah? Mari Mengaca!
13 Aug 2018 00:00:00 



SAHABAT KELUARGA-

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ


“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”


Pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, membuat saya harus keluar kota beberapa hari. Kemudian pulang malam, tidur malam, sehingga bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya. Yang membuat sedih, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak.
Pagi itu saya bangun terlalu siang. Itu saja yang membangunkan Nera, ”Ayah, bangun. Disuruh ibu salat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!”
Saya segera bangun mengambil air wudhu, salat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan Mafi dan Nera ke sekolah. Di tengah jalan saya bertanya, ”Tadi salat Subuh sama siapa?”
”Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak.
”Semalam salat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali.
”Maghrib di musala….,” Mafi menghentikan kata-katanya.
”Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak salat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan.
Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk.
Selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri. ”Apa yang terjadi dengan salatnya anak-anak selama ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya.
”Anak-anak semangat salatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur,” Istri menjelaskan panjang lebar.
Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: Tidak bisa menghadirkan dan menjaga semangat salat anak-anak di keluarga.
Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya dan tidak terkecuali energi dari orangtuanya. Di sinilah, tugas orangtua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah salat.
Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, ”Saatnya salat!” Maka anak-anak akan bersegera salat mengikuti saya. Kami pun berangkat salat berjamaah di musala dengan penuh bahagia.
Waktu lainnya di rumah selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan, dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk salat dalam keluarga. Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat saya sendiri sedang senang dengan salat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama.
Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi salat ini diserap dan dipahami oleh anak. Sehingga mereka pun mendapatkan energi salat yang sama dari orangtuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orangtuanya.
Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana salatnya tidak ada, itu terjadi karena orangtuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi salat dalam keluarganya. Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin salat karena orangtua yang setiap hari memberikan contoh dan energi salat juga pada anak-anaknya.
Sebaliknya, anak-anak yang perilaku salatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orangtuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orangtuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk salat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin salat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti.

 Orangtua teladan bagi anak
Di sinilah, menghadirkan semangat salat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin salat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan  memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya salat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan salat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Dengan cara ini suasana semangat untuk melakukan ibadah salat diciptakan dan dijaga secara baik. Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan mereka untuk selalu menunaikan salat sebaik mungkin.
Saya pun mendadak teringat kejadian beberapa lalu saat terdengar kumandang adzan. Saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak salat berjamaah. Anak-anak pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami salat berjamaah. Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan.
Saat kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi salat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga secara baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat salatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya.
Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniatur kenyataan keimanan orangtuanya. Jika orangtuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana salatnya secara baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orangtua gagal menghadirkan dan menjaga suasana salatnya secara baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.
Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, ”Nanti selepas anak-anak pulang sekolah hadirkan kembali semangat dan suasan salat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasana salat akan hadir kembali di keluarga kita.”
Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertobat dengan sikap-sikap yang istimewa.
Semoga. (Heru Kurniawan-seorang Ayah di Purwokerto)


Senin, 24 September 2018




MENGAPA HARUS IMUNISASI CAMPAK ?
Campak merupakan penyakit yang disebabkan virus. Penyebarannya sangat mudah yaitu melalui udara. Campak bisa mengakibatkan komplikasi serius berupa pneumonia (radang paru-paru), kejang, kerusakan otak dan kematian. Vaksinasi merupakan cara terbaik untuk mencegah campak.
Gejala umum campak bisa berupa: demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, diare, ruam makulopapular menyeluruh. Gejala khas pada campak ada 3, biasa disebut 3C: cough (batuk), coryza(hidung meler), conjungtivitis(mata merah). Gejala patognomonik campak: bercak koplik (koplik spot) pada orofaring.
Tatalaksana Campak tanpa komplikasi
  • Pada umumnya tidak memerlukan rawat inap.
  • Beri Vitamin A. Tanyakan apakah anak sudah mendapat vitamin A pada bulan Agustus dan Februari. Jika belum, berikan 50 000 IU (jika umur anak < 6 bulan), 100 000 IU (6–11 bulan) atau 200 000 IU (12 bulan hingga 5 tahun). Untuk pasien gizi buruk berikan vitamin A tiga kali. Selengkapnya lihat tatalaksana pemberian Vitamin A.
Perawatan penunjang
  • Jika demam, berikan parasetamol.
  • Berikan dukungan nutrisi dan cairan sesuai dengan kebutuhan. Lihat tata laksana pemberian cairan dan nutrisi.
  • Perawatan mata. Untuk konjungtivitis ringan dengan cairan mata yang jernih, tidak diperlukan pengobatan. Jika mata bernanah, bersihkan mata dengan kain katun yang telah direbus dalam air mendidih, atau lap bersih yang direndam dalam air bersih. Oleskan salep mata kloramfenikol/tetrasiklin, 3 kali sehari selama 7 hari. Jangan menggunakan salep steroid.
  • Perawatan mulut. Jaga kebersihan mulut, beri obat kumur antiseptik bila pasien dapat berkumur.
Kunjungan Ulang
Minta ibu untuk segera membawa anaknya kembali dalam waktu dua hari untuk melihat apakah luka pada mulut dan sakit mata anak sembuh, atau apabila terdapat tanda bahaya.
Campak dengan komplikasi berat
Pada pemeriksaan, lihat apakah ada tanda komplikasi:
  • Kesadaran menurun dan kejang (ensefalitis)
  • Pneumonia
  • Dehidrasi karena diare
  • Gizi buruk
  • Otitis Media Akut
  • Kekeruhan pada kornea
  • Luka pada mulut yang dalam atau luas
http://www.ichrc.org/sites/default/files/6-7%20xeroftalmia.PNG
Tatalaksana
Anak-anak dengan campak komplikasi memerlukan perawatan di rumah sakit.
  • Terapi Vitamin A: berikan vitamin A secara oral pada semua anak. Jika anak menunjukkan gejala pada mata akibat kekurangan vitamin A atau dalam keadaan gizi buruk, vitamin A diberikan 3 kali: hari 1, hari 2, dan 2-4 minggu setelah dosis kedua.
Berikan pengobatan sesuai dengan komplikasi yang terjadi:
  • Penurunan kesadaran dan kejang dapat merupakan gejala ensefalitis atau dehidrasi berat. Lihat bab mengenai pengobatan kejang dan merawat anak yang tidak sadar.
  • Pneumonia
  • Diare: obati dehidrasi, diare berdarah atau diare persisten
  • Masalah pada mata.
    • Konjungtivitis ringan tanpa adanya pus, tidak perlu diobati.
    • Jika ada pus, bersihkan mata dengan kain bersih yang dibasahi dengan air bersih. Setelah itu beri salep mata tetrasiklin 3 kali sehari selama 7 hari. Jangan gunakan salep yang mengandung steroid.
    • Jika tidak ada perbaikan, rujuk.
  • Otitis media
  • Luka pada mulut. Jika ada luka di mulut, mintalah ibu untuk membersihkan mulut anak dengan air bersih yang diberi sedikit garam, minimal 4 kali sehari.
    • Berikan gentian violet 0.25% pada luka di mulut setelah dibersihkan.
    • Jika luka di mulut menyebabkan berkurangnya asupan makanan, anak mungkin memerlukan makanan melalui NGT.
  • Gizi buruk: sesuai dengan tatalaksana gizi buruk
Perawatan penunjang
  • Jika demam, berikan parasetamol.
  • Berikan dukungan nutrisi dan cairan sesuai dengan kebutuhan. Lihat tata laksana pemberian cairan dan nutrisi.
Pemantauan
Ukur suhu badan anak dua kali sehari dan periksa apakah timbul komplikasi.
Tindak lanjut
Penyembuhan campak akut sering terhambat selama beberapa minggu bahkan bulan, terutama pada anak dengan kurang gizi. Atur anak untuk menerima dosis ketiga vitamin A sebelum keluar dari rumah sakit, jika ini belum diberikan.
Tindakan pencegahan
  • Pasien harus dirawat di ruang Isolasi
  • Imunisasi: semua anak serumah umur 6 bulan ke atas. Jika bayi umur 6–9 bulan sudah menerima vaksin campak, penting untuk memberikan dosis kedua segera setelah bayi berumur lebih dari 9 bulan.
 IMUNISASI CAMPAK
Imunisasi merupakan suatu upaya yang aman dan sangat efektif dalam mencegah penyakit infeksi seperti campak. Jika cukup banyak orang yang mendapat imunisasi maka akan terbentuk kekebalan kolektif (herd immunity). Jika semua orang kebal terhadap infeksi virus campak, maka virus campak tidak akan lagi memiliki inang (host) untuk berkembang biak. Harapannya suatu saat virus campak akan punah seperti virus cacar atau polio. Jadi imunisasi adalah upaya melindungi diri sendiri dan orang lain. Jika ada orang yang menolak vaksinasi, itu berarti bisa mencelakai anaknya sendiri dan juga orang lain.
 Dan yang perlu menjadi perhatian, pemberian vaksin pada usia 9 bulan saja tidak cukup untuk mencegah/menurunkan komplikasi penyakit campak. Diperlukan vaksinasi kedua pada saat umur 2 tahun dan saat masuk sekolah dasar umur 5-6 tahun, yang sering disebut sebagai booster. Karena itu, penting sekali kegiatan booster campak ini dilakukan pada  anak-anak usia masuk sekolah dasar/yang sederajat.
Mari kita dukung program imunisasi campak sebagai salah satu upaya kita untuk mencegah penyakit campak ini. Dan karena imunisasi ini merupakan program pemerintah, kita niatkan mengikuti program imunisasi ini untuk menaati pemerintah dalam perkara kebaikan. Wallahu a’lam.
Sie Kesehatan Al Falah
dr. Yuni Aryanti
Referensi:
http://dokter post/campak
http://www.ichrc.org/67-campak
http://www.vaccineinformation.org/measles/



AYO SEMANGAT MENGHADIRI MAJLIS ILMU SECARA LANGSUNG.

1.Dimudahkan jalannya menuju surga
Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat
Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).
Makna dari وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ “mereka akan dilingkupi para malaikat“, dijelaskan oleh Al Mula Ali Al Qari:
مَعْنَاهُ الْمَعُونَةُ وَتَيْسِيرُ الْمُؤْنَةِ بِالسَّعْيِ فِي طَلَبِهِ
“Maknanya mereka akan ditolong dan dimudahkan dalam upaya mereka menuntut ilmu” (Mirqatul Mafatih, 1/296).

3. Merupakan jihad fi sabilillah
Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ
Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).
Tasybik adalah menjalin jari-jemari.

5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin
Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ
Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:
والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ
“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”
Dan tentu saja orang yang menuntut ilmu di masjid akan mendapat semua keutamaan menuntut ilmu secara umum yang ini jumlahnya banyak sekali.


Senin, 17 September 2018

CARA MEMILIH PENDIDIK YANG BAIK

Dua karakter yang penting untuk dimiliki setiap pendidik :
1. Skill/profesionalitas.
2. Amanah dalam mengemban tugas.
Jika dua hal ini tidak
bisa didapatkan bersamaan dalam diri seseorang, karyawan tipe apakah
yang harus Anda dahulukan?
Memiliki pendidik yang profesional dan
amanah adalah impian setiap Yayasan. Di atas pundak mereka, sekolah
dapat maju pesat setelah izin dan ketentuan Allah ta’ala. Demikianlah kriteria karyawan
yang seharusnya Anda rekrut, sebagaimana dikisahkan Allah ta’ala dalam cerita puteri Syu’aib
‘Alaihissalam berikut :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ


“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat, lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashas: 26)
Namun fakta di lapangan tidak sesederhana dalam impian. Mendapatkan karyawan yang profesional insya Allah mudah, namun belum tentu amanah.

Mendapatkan orang yang amanah juga tidak begitu sulit. Sayangnya betapa sedikitnya dari mereka yang profesional.

·         Mana yang Harus Anda Pilih 

Sering Anda terpaksa harus memilih: merekrut karyawan profesional namun tidak amanah atau karyawan amanah namun tidak profesional? Kondisi ini
dipastikan membuat Anda pusing tujuh keliling.
“Bilaamanah (kepercayaan) telah disia-siakan, maka nantikanlah datangnya
Kiamat (kehancuran). Ada yang bertanya: Bagaimana wujud menyia-nyiakan
amanah? Beliau 
Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: Bila kepercayaan diberikan kepada orang yang tidak layak, maka nantikanlah datangnya Kiamat (kehancuran). (HR. Bukhari)

·         Langka Sekali…langsung mendapat Pendidik yang professional dan amanah

Saudaraku! Sunnatullah telah tetap, bahwa manusia  profesional lagi amanah adalah barang langka dari zaman dulu sampai sekarang.

Ibnu Taimiyah berkata: “Kemampuan dan amanah
jarang bersatu pada diri seseorang.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, hlm. 15)

Ibnu Taimiyyah menjelaskan, :
 “Bila pada suatu jabatan terdapat dua pilihan orang:
– Lebih menonjol dalam hal amanah.
– Lebih menonjol dalam hal kemampuan (kekuatan).
Harus didahulukan orang yang paling berguna yang sesuai jabatan tersebut, dan paling sedikit risikonya.

Misalnya, pimpinan perang diserahkan kepada orang yang kuat dan
pemberani, walaupun tingkat ketakwaanya lebih rendah dibanding orang
yang lemah dan penakut walau memiliki amanah yang tinggi.
Bila suatu jabatan lebih membutuhkan kepercayaan, orang yang memiliki amanah lebih didahulukan. Misal jabatan bendahara atau yang serupa. Ada pun jabatan pemungut dan penjaga harta (semisal kasir), harus memenuhi dua kriteria di atas. Yaitu kekuatan dan amanah. Dengan demikian karyawan yang tangguh berbekal keberanian berhasil memungut harta, dan berbekal amanah dan pengalaman mampu menjaga harta tersebut.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, 15- 17)

·         SOLUSI Bangunlah Amanah dan Kehandalan Pendidik.

Meningkatkan, membangun etos kerja karyawan adalah satu sikap bijak yang sepantasnya Anda lakukan dengan KAJIAN DAN PELATIHAN. Dengan cara demikian ini hasil kerja karyawan anda semakin optimal dan euntungan Andapun terus bertambah. Namun bagaimanakah kiat meningkatkan produktiviitas atau kemampuan karyawan dalam hal produksi
dan amanahnya?
Bagi seorang pengusaha, kiat-kiat meningkatkan
produktifitas karyawan – saya yakin – bukanlah hal yang asing lagi.
Namun mungkin yang baru bagi anda ialah bagaimana kiat manjur dalam
membangun amanah pada karyawan?
Imam Ibnu Taimiyah pernah memberikan resep sederhana namun efektif guna membangun amanah karyawan
Anda.

Beliau berkata: “Amanah terwujud berkat adanya tiga hal:
(1) Rasa takut kepada Allah;
(2) Tidak menjual ayat-ayat Allah (kebenaran) dengan harta; dan
(3) Tidak takut kepada sesama manusia.

Ketiga hal ini
merupakan syarat Allah yang dibebankan kepada setiap hakim yang
mengadili masyarakat. Allah nyatakan dalam Al-Quran, yang artinya, ”Karenaitu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (As-Siyasah As-Syar’iyah, hlm. 13)

Dengan
mewujudkan ketiga hal yang dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu
Taimiyyah tersebut, artinya Anda mewujudkan kesadaran tinggi pada diri
karyawan Anda. Kesadaran tinggi yang bersumberkan keimanan kepada Allah
yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar seperti ini menjadikan karyawan
Anda merasa senantiasa diawasi walaupun dia sedang seorang diri jauh
dari pengawasan Anda.
Karyawan yang benar-benar mengaplikasikan
nilai-nilai imannya untuk selalu menyadari bahwa setiap perbuatanya
dicatat dan pasti dihisab di hadapan Allah. Sekecil apa pun
perbuatannya dan sepandai apa pun dirinya dalam menyembunyikan suatu
kecurangan, pastilah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena
itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara amanah dengan keimanan.

 “Tidak dinyatakan beriman orang yang tidak dapat menunaikan amanah, dan tidak dinyatakan beragama orang yang tidak menepati janji-janjinya.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Sahabat Umar bin Khatthab juga mengutarakan hal serupa: ”Janganlah engkau terperdaya oleh sholat dan puasa seseorang. Siapa saja mau mendirikan sholat atau puasa niscaya ia kuasa melakukannya. Namun ketahuilah bahwa tidak dinyatakan beragama orang yang tidak dapat menunaikan amanah.”
(HR. Baihaqi dan lainnya)
Karena itu, sebagaimana Anda membuat
pelatihan kerja untuk para karyawan Anda, buatlah pelatihan-pelatihan
amanah untuk mereka. Harapannya, etos kerja karyawan Anda semakin
meningkat dan keuntungan andapun semakin berlipat.
Semoga bermanfat untuk meningkatkan produktivitas dan amanah karyawan Anda. Wallahu Ta’ala A’alam bisshawab.