Senin, 18 Januari 2021

Didik Anak Sesuai Bakat

 Didik Anak Sesuai Bakatnya

Ibnu Qayyim dalam Tahdzib Sunan Abi Dawud fi 'Alam Al-Fawaid menekankan pentingnya orang tua memperhatikan sejak dini bakat putra-putrinya. Orang tua harus mendukung anaknya mengembangkan bakat jangan diarahkan kepada sesuatu yang tidak diinginkannya.

"Janganlah orang tua membawa anaknya kepada pekerjaan lain selagi pekerjaan yang menjadi bakat anaknya itu diizinkan 'syara'," katanya.

Karena, di antara yang perlu dilakukan orang tua adalah memperhatikan hal ihwal pekerjaan yang kiranya menjadi bakat anak. Orang tua hendaknya tahu setiap
 anak diciptakan dengan bakat pekerjaan tertentu.

"Karena jika orangtua membawa anaknya kepada pekerjaan yang bukan bakatnya, anak itu tidak akan sukses padahal pekerjaan yang menjadi bapaknya tidak terpegang," katanya.

Ibnu Qayyim menyarankan, jika orang tua melihat anaknya, bagus pemahamannnya, benar pengertiannya, baik hafalannya, dan berkesadaran tinggi, pertanda anak itu bakat menerima ilmu. Untuk itu, hendaknyalah orang tua segera menggoreskan ilmu dalam hatinya.

"Selagi masih kosong niscaya ilmu akan melekat padanya dan berkembang bersama pertumbuhan anak itu," katanya.

Namun jika orangtua melihat anak itu tidak berbakat seperti yang ditinjau dari segala seginya, tetapi anak itu terlihat lebih cocok menjadi tentara dengan segala penunjangnya seperti ketangkasan mengendarai kendaraan, melempar dan bermain tombak, maka arahkanlah.

Melihat bakat ketentaraan, orang tua jangan memaksakan anak itu untuk menjadi seseorang yang memperdalam ilmu. Karena anak itu sudah tidak tampak mengarah kepada ilmu dan tidak diciptakan untuk ilmu.

Maka dari itu, hendaklah orang tua memberinya kesempatan anak itu untuk melakukan berbagai hal yang mengarah kepada ketentaraan dan berlatih untuknya. Dengan demikian
 bakat anak tersebut tersalurkan sehingga akan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

"Itu lebih bermanfaat baginya dan bagi kaum muslimin," katanya.

Ibnu Qayyim kembali mencontohkan, jika orang tua melihat anaknya tidak berbakat seperti itu dan tampaknya tidak diciptakan untuk itu, tapi dia perhatian anak itu mengarah kepada salah satu jenis industri dan tampaknya dia berangkat ke sana dan siap menerimanya maka dukunglah.

Apalagi pekerjaannya yang menjadi bakatnya itu tergolong halal dan bermanfaat bagi manusia, maka berilah kesempatan untuk itu. Perlu diperhatikan, itu semua dilakukan setelah anak itu diajari segala yang ia perlukan dalam soal agama.

Allah SWT telah memudahkan bagi setiap orang terhadap masalah agama, sehingga mengajari agama perlu dilakukan sejak dini kepada anak-anak agar hujjah Allah tetap tegak atas siapapun. Sesungguhnya Allah mempunyai hujjah yang kuat atas sekalian hamba-hamba -Nya seperti Dia memberi mereka nikmat yang sempurna.

"Wallahualam." tutup Ibu Qayyim.

Sabtu, 07 November 2020

 

KISAH ORANG TUA TELADAN

Nama tokoh kita hari ini adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, dikenal dengan panggilan Al Khansa’. Seorang sahabiyah sahabat wanita yang mulia.

Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak laki-laki. Melalui pembinaan dan pendidikan tangannya yang lembut, keempat anak lelakinya ini tumbuh menjadi pembela Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya dan didikannya terhadap keempat anak lelakinya yang gugur berjihad di medan Perang Qadisiyah.

Sebelum peperangan dimulai, terjadilah diskusi di rumah Khansa.            Di antara keempat putranya saling berebut kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka.

Keempatnya saling menunjuk yang lain untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh-musuh Allah. Rupanya perdebatan mereka itu terdengar oleh Khansa.

Maka Khansa mengumpulkan keempat anaknya dan berkata, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada sesembahan selain Dia, sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati ayahmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng kehormatan keluargamu." Maka keluarlah kalian semua berperang di jalan Allah.

Khansa berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah. Majulah paling depan, niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat, negeri keabadian.

Sesungguhnya tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Inilah kebenaran sejati, maka berperanglah dan bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya kalian dianugerahi hidup yang baik."

Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik daripada negeri yang fana. Allah jalla wa ‘ala berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” 

(QS. Ali ‘Imran: 200)

Ketika sinar pagi telah terbit, kedua pasukan pun bertemu.Gugurlah orang-orang yang ditakdirkan gugur. Dan mereka yang ditakdirkan hidup, akan tetap hidup walaupun berangkat mencari kematian.

Usai peperangan, al-Khansa mencari kabar tentang putra-putranya.Kabar kematian anak-anaknya sampai kepadanya.Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap Rabku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya.”

Sumber:
– islamstory.com/ar/
امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي

Rasulullah pernah bersabda,

“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab: ‘Begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969)

Ayah bunda, seperti itulah semangat Al Khansa’ dalam mendamping dan membimbing putranya dalam berjihad fii sabilillah.

Bagaimana dengan semangat kita membimbing putra-putri kita dalam belajar menuntut ilmu?

Menuntut ilmu juga merupakan bagian dari jihad fii sabilillah maka sepantasnya kita juga semangat mendampingi putra putri kita belajar di rumah, jangan mudah mengeluh dan jangan mudah putus asa.

Sabtu, 31 Oktober 2020

panduan pendidikan anak

 TIPS DAN MOTIVASI AGAR SUKSES MENDIDIK ANAK

Untuk Orang Tua & Guru

 

Ayah bunda, bapak ibu guru dan ustadz ustadzah...dalam agama kita telah lengkap panduan, dalam pendidikan anak, agar putra-putri kita menjadi anak yang shalih dan shalihah.

Ada 3 tips penting bagi orang tua dan guru :

 

1)               RAJIN BERDOA

 

Orang tua dan guru harus rajin berdoa meminta kepada Allah pertolongan agar sukses dalam pendidikan putra-putrinya.Tanpa doa, sangat tak mungkin tujuan mendapatkan anak shalih bisa terwujud. Karena keshalihan didapati dengan taufik dan petunjuk Allah.

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.”

(QS. Al-A’rof : 178)

Karena hidayah di tangan Allah, tentu kita harus banyak memohon pada Allah putra-putri kita dan murid kita semoga menjadi anak anak yang shalih dan sukses di dunia dan akhirat. Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salam juga tidak lupa dan berdoa untuk anak-anak mereka.

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100).

Doa Nabi Zakariya ‘alaihis salaam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa]

(QS. Ali Imron: 38)

Yang jelas doa orang tua pada anaknya adalah doa yang mustajab. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang terzalimi.”

(HR. Abu Daud no. 1536, Ibnu Majah no. 3862 dan Tirmidzi no. 1905. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karenanya jangan sampai orang tua dan guru melupakan doa baik pada anaknya, walau mungkin saat ini anak tersebut sulit diatur dan nakal. Hidayah dan taufik di tangan Allah. Siapa tahu ke depannya, ia menjadi anak yang shalih dan manfaat untuk orang tua berkat doa yang tidak pernah putus-putusnya.

 

2)            TELADAN DALAM KEBAIKAN.

 

Kalau orang tua dan guru menginginkan anak yang shalih, orang tua dan guru  harus memperbaiki diri terlebih dahulu. Orang tua dan guru harus menjadi teladan dan panutan putra putrina.

Sebagian ulama salaf sampai-sampai terus menambah kualitas shalatnya, cuma ingin agar anaknya menjadi shalih.

Sa’id bin Al-Musayyib pernah berkata pada anaknya,

لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ

“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih, pen.).”

(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

 ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ

“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah, pen.), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.”

(Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)

Salah seorang ulama mengatakan kepada guru anak-anaknya,

“Hal pertama yang harus Anda lakukan untuk mendidik keshalihan anak-anak saya adalah membuat diri Anda sendiri menjadi shalih. Karena kesalahan mereka adalah bentuk mencontoh dari kesalahan Anda; Hanya perbuatan baik saja yang harus Anda lakukan dan tinggalkanlah perbuatan yang jelek di hadapan mereka” (Tariikh Dimasyq, 38 / 271-272).



3)            IKHTIYAR USAHA MAKSIMAL

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]


Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”,

adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimhum)”.

Memberi pendidikan kepada mereka dan pendampingan saat mereka belajar.  

Walaupun mendidik dan mendampingi anak saat belajar merupakan hal yang tidak mudah, tetapi kita harus bersabar dan tabah.

Karena setiap kebaikan yang kita ajarkan kepada anak anak kita, pahalanya akan mengalir kepada kita orang tua dan guru.

Imam Tirmidzi, Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkan dalam hadits shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ

dan sesungguhnya anak-anakmu itu termasuk usaha kamu”.

Jika orang tua dan guru mengajari anak shalat, maka saat anak tersebut shalat , guru dan orang tuanya mendapat aliran pahala.

Saat orang tua dan guru mengajari Al Qur’an maka saat anak membaca Al Qur’an orang tua dan guru juga mendapat aliran pahala.

 

4)            MEMILIHKAN LINGKUNGAN YANG BAIK.

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Karena lingkungan sangat mempengaruhi perilaku anak, maka orang tua harus selektif memilih lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah.

 




 

 

Minggu, 14 Juni 2020

ETIKA MEMPERBAIKI KESALAHAN PEMERINTAH

Kita sebagai umat Islam, telah dipilih oleh Allah sebagai umat terbaik yang selalu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan selalu memberikan nasihat kebaikan dan kebenaran kepada orang lain.
Termasuk terhadap pemerintah, jika kita melihat kekurangan dan kesalahan mereka maka sikap kita adalah :
1.       Tidak boleh mendukung dan menyetujui kesalahan mereka.
2.       Tidak boleh diam dengan kesalahan mereka.
Harus ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan nasihat dalam kebaikan.
Akan tetapi ada aturan dalam Al Qur’an dan dalam As Sunnah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan nasihat kepada pemerintah :
1.   Dengan bahasa yang lembut, kata-kata yang sopan dan penuh kasih sayang mengharapkan kebaikan, Berkata-kata kasar, tidak layak keluar dari lisan seseorang yang mengaku muslim Renungkan firman Allah Ta’ala:
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ْ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.
[At-Thoha:43-44]
Kita bukan Musa -alaihis salam- dan kita tidak lebih baik dari Musa -alaihis salam-
Pemerintah kita juga tidak sejahat Fir’aun yang mengaku Rabb Pencipta yang tertinggi.
2.   Berusaha menyampaikan secara langsung, melalui mekanisme yang resmi dan benar, bukan dengan teriak teriak di jalan, apalagi pada zaman ini ada akun pribadi para pemerintah baik di facebook, twitter dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلاِنِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ لَهُ
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah dia menasihati secara terang-terangan. Akan tetapi, ambillah tangannya dan menyepilah dengannya. Jika sang penguasa menerima (nasihatmu), itulah yang diinginkan. Jika tidak, maka dia telah menunaikan kewajibannya.” 
(HR. Ahmad 3/403, Ath-Thabrani dalam Musnad Asy-Syamiyyiin 2/94, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 1096 dan yang lainnya. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Dzilaal As-Sunnah 2/507)
Perintah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas juga diamalkan oleh sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ketika banyak orang membicarakan dan mengkritik kepemimpinan sahabat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
Ada seseorang yang berkata kepada Usamah radhiyallahu ‘anhu,
أَلَا تَدْخُلُ عَلَى عُثْمَانَ فَتُكَلِّمَهُ؟
“Tidakkah Engkau menemui ‘Utsman dan menasihatinya?”
Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata,
أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ؟ وَاللهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ، مَا دُونَ أَنْ أَفْتَتِحَ أَمْرًا لَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ فَتَحَهُ
“Apakah kalian anggap aku tidak menasihatinya karena kalian tidak mendengar pembicaraanku kepadanya? Demi Allah, sungguh aku telah berbicara dengannya empat mata, tanpa menampakkannya. Aku tidak mau menjadi orang yang pertama kali membuka (pintu fitnah).” 
(HR. Muslim no. 2989)