Selasa, 14 Maret 2017

Aqidah berkaitan dengan Iman

AQIDAH BERKAITAN DENGAN IMAN

          Sebagai orang yang mengaku sebagai orang yang beriman, kita harus mengetahui arti Iman, rukun-rukun Iman dan amalan-amalan apa saja yang bisa menambah dan mengurangi Iman, sehingga keimanan kita didasari dengan ilmu dan bashiroh dan akan meningkat kualitas iman kita.

1)   Arti Iman         :
a)    Secara bahasa (etimologi)                                     : pembenaran dan penetapan yang kuat yang mendorong pelaksanaan.

b)    Secara istilah syariat Islam (terminologi)   : terpenuhi 5 hal ;
·         Penetapan dalam hati.
·         Pengucapan di lisan.
·         Pelaksanaan anggota badan.
·         Bertambah dengan ketaatan.
·         Berkurang dengan dosa.

2)   Dalil-dalil yang membuktikan iman harus terdiri dari 5 hal                   :
·         Iman harus terdiri dari keyakinan hati, pengucapan lisan dan pelaksanaan anggota badan      :
الْإِيمَانُ بِضْعَةٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعَةٌ وَسِتُّونَ بَابًا، أَفْضَلُهَا شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَصْغَرُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Iman 70 an atau 60 an cabang, yang paling utama persaksian tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, yang paling lemah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu merupakan bagian dari iman

·         Iman bisa bertambah    :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

·         Iman bisa lemah dan berkurang         :
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ».
"barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia segera merubahnya dengan tangannya, kalau tidak mampu maka dengan lisannya, kalau tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu merupakan iman yang paling lemah”

3)   Pemahaman yang sesat berkaitan dengan iman                 :
a)    Murjiah       : Memisahkan iman dengan amal, iman tidak dipengaruhi amal. Iman hanya sekedar pembenaran dalam hati, atau pengetahuan dalam hati.
·         Bantahan         : seandainya keimanan itu hanya keyakinan dalam hati maka Fir’aun termasuk golongan beriman dalam kisahnya     :        
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (102)
102. Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, Hai Fir'aun, seorang yang akan binasa". [Al Isro’ : 102]
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (14)
14. dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. [An Naml : 14].

b)    Karromiyah : Iman adalah pengucapan di lisan.
§  Bantahan    : Orang-orang Munafik dalam kisah mereka  :

إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقِينَ لَكاذِبُونَ (1)
1. apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. [Al Munafiquuna : 01].

c)    Mu’tazilah dan Khawarij : mereka meyakini bahwa Iman terdiri dari keyakinan dalam hati, ucapan lisan dan amal perbuatan, tetapi keyakinan mereka bahwa iman adalah suatu kesatuan, jika tercampur dengan dosa berupa meninggalkan kewajiban atau melakukan dosa apa saja maka akan hilang secara keseluruhan iman, perbedaan antara Mu’tazilah dan Khawarij tentang pelaku dosa besar, Khawarij mengatakan keadaan mereka kafir di dunia, di akherat kekal di neraka, Mu’tazilah mengatakan keadaan mereka diantara iman dan kafir di dunia, kekal di neraka.

4)   Aqidah yang benar berkaitan dengan pelaku dosa dan pengaruhnya terhadap iman :

a)    Pembagian dosa    :
·         Dosa yang bisa menghapus iman secara keseluruhan         : dosa ini dikenal dengan dosa kesyirikan dan dosa kekafiran, jika seseorang mengerjakannya dalam keadaan sadar dan sengaja maka iman didalam dirinya akan hilang dan menyebabkan dirinya terjatuh di dalam kekafiran dan akan mengekalkan dirinya dalam neraka jika mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa tersebut.
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخاسِرِينَ" [الزمر: 65]
65. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi.

·         Dosa yang tidak menghapus iman secara keseluruhan tetapi menguranginya dan melemahkannya        : dosa-dosa ini dikenal dengan “Al Kabair” (dosa-dosa besar) dan “Ash Shoghoir” (dosa-dosa kecil)
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
32. (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. [An Najm : 32].

5)   Dalil-dalil yang menunjukkan pelaku dosa besar tidak dihukumi kafir di dunia dan di akherat tidak kekal di neraka      :
§  Di dunia      : Allah masih mengatakan muslim dan tetap dianggap sebagai saudara, seseorang yang melakukan dosa pembunuhan.
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا
9. dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)
10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. [ Al Hujurat 10]
§  Di akherat   :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48)
48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

HR Bukhori 44 Muslim 193      :
«يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ  النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ»

“akan keluar dari neraka seseorang yang berkata Laa ilah illallah dan di dalam hatinya ada sekadar biji sya’iir dari kebaikan, akan keluar dari neraka seseorang yang berkata Laa ilah illallah dan di dalam hatinya ada sekadar biji gandum dari kebaikan, akan keluar dari neraka seseorang yang berkata Laa ilah illallah dan di dalam hatinya ada sekadar biji dzurrah dari kebaikan”.

Abul Hasan Ali Cawas, 16 Jumadil Akhir 1348 H/ 15 Maret 2017 H








Jumat, 10 Maret 2017

Aqidah Asma' wa sifat bagian 2

TAUHID ASMA' WA SIFAT 02 


1)       Pedoman di dalam penetapan Asma’ dan Sifat                      :
Sebuah pertannyaan diajukan kepada Imam Malik “rahimahullah” tentang permasalahan asma’ wa sifat, yaitu permasalahan “istiwa”( Allah berada di atas Arsy) :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5)
5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang berada di atas 'Arsy[913]
Maka Imam Malik “rahimahullah” menjawab      :
الاستواء معلومٌ ، والكيف مجهولٌ ، والإيمان بـــه واجبٌ ، والسؤال عنه بدعةٌ ".
“Istiwa’ artinya jelas, bagaimana bentuknya kenyataannya yang tidak diketahui, beriman dengannya wajib, dan mempertannyakan bagaimana bentuknya bid’ah”
[ diriwayatkan Al Laalikai dalam kitab “syarh Ushul I’tiqod Ahlus sunnah wal Jama’ah (441/3) dan Imam Baihaqi dalam “Asma wa sifat” (408) dishahihkan oleh Imam Dzahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar”].
Dalam ucapan Imam Malik ini kita ambil 4 pedoman dalam penetapan Asma’ wa sifat :
1.    Istiwa’ jelas     : artinya istiwa’ dan seluruh asma dan sifat Allah jelas maknanya secara bahasa.
Misalnya istiwa’ secara bahasa Arab artinya : “tinggi” dan “di atas”.
2.   Bagaimana bentuknya kenyataannya tidak diketahui        : artinya bahwa dzat dan perbuatan Allah mempunyai bentuk, akan tetapi bentuknya tidak diketahui akal manusia. Istiwa’ Allah diatas arsy tidak diketahui, apakah diatas menempel dengan arsy, atau tidak menempel, atau diatas arsy letaknya tepat ditengah atau dipinggir dll, tidak diketahui karena tidak ada dalil yang menjelaskannya secara terperinci.
3.   Beriman dengannya wajib   : artinya beriman bahwa Allah beristiwa’ diatas arsy wajib, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an sesuai dengan makna bahasa, sesuai dengan keagungan Allah ta’ala.
4.   Bertanya tentangnya bid’ah         : artinya bertanya tentang “kaifiyah/bentuknya” ( bagaimana istiwa’ Allah diatas Arsy?) ini termasuk bid’ah yang tidak pernah dituntunkan oleh Rasulullah dan tidak pernah dilakukan oleh shahabat.
·         Contoh yang lainnya misalnya (الْعَيْنُ) :mata
                       وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي} [طه: 39].
39.. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[916]; dan supaya kamu diasuh di bawah mata-Ku,
§  Mata artinya secara bahasa : dalam kamus “Muhtaar Ashihhah” disebutkan artinya : حَاسَّةُ الرُّؤْيَةِ artinya alat untuk penglihatan.
§  Maka wajib bagi kita untuk beriman bahwa Allah punya mata sesuai makna bahasa yaitu alat untuk melihat.
§  Mata Allah berjumlah 2 :
"إنه أعور، وإن ربكم ليس بأعور" (1) رواه البخاري (3057)، ومسلم (169)
“sesungguhnya dia (Dajjal) cacat salah satu matanya dan sesungguhnya Rabb kalian tidaklah cacat salah satu mataNya”.
§  Mata Allah punya bentuk, akan tetapi bentuknya tidak kita ketahui dan tidak boleh bagi kita menanyakan “kaifiyah”/ bentuk mata Allah, apakah kotak, atau bulat, apakah berwarna putih dan hitam, atau putih dan biru.

2)     Kesalahan-kesalahan dalam penetapan asma’ wa sifat       :
a)     Tahriif                         : Penyimpangan dan pemalingan makna yang benar kepada makna yang salah, terbagi menjadi 2 :
ü  Tahriif lafdzi     : penyimpangan makna dengan menambah atau mengurangi kata atau merubah harokat dalam kata.
Contohnya                  : istawa’ dirubah menjadi istaula.
ü  Tahriif maknawi         : penyimpangan makna dengan mentafsirkan tidak sesuai dengan tafsir yang benar.
Contoh         : (( اليد )) diartikan sebagai kekuatan, dalam firman Allah ta’ala   :
{مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ} [ص: 75].
75. Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.
قال صلى الله عليه وسلم: "كلتا يديه يمين" (2).رواه مسلم (1827) عن ابن عمر رضي الله عنهما
“ Kedua tangan Allah kanan”.
b)     Ta’tiil              : Menolak dan meniadakan asma dan sifat bagi Allah. Terbagi menjadi 2 pula :
ü  Ta’tiil Mutlak       : Meniadakan asma dan sifat bagi Allah secara totalitas, seperti Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di bawah, tidak punya tangan, tidak punya mata dll, dengan alasan tidak mau menyamakan dengan makluk. ( Pendapat Jahmiyah )
ü  Ta’tiil Ba’dh     : Meniadakan sebagian nama dan sifat Allah dan menetapkan sebagiannya, seperti pemahaman Nama Allah hanya 99 saja, atau sifat Allah hanya 20 saja. ( Pendapat Mu’tazilah dan Asya’irah)
c)      Takyiif        : Menjelaskan bentuk sifat Allah dengan khayalan dari akal dan tidak didasari dalil yang shahih. Seperti ucapan tangan Allah sangat besar, mempunyai jari 100 yang sangat panjang dan kuat.
d)    Tamtsiil      : Menyerupakan bentuk sifat Allah dengan bentuk sifat dari makluknya, seperti ucapan wajah Allah seperti bulan yang bersinar, tangan Allah sangat kuat seperti tangannya singa.
e)    Tafwiidh      : menyerahkan segalanya kepada Allah, dengan mengatakan tidak paham makna tangan Allah, tidak paham makna wajah Allah, hanya Allah yang paham. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “ Tafwiidh sejelek-jelek pendapat ahlul bid’ah”. Perbedaan dengan pendapat Ahlus Sunnah, bahwa ahlus sunnah mengatakan makna tangan Allah jelas dan dipahami oleh akal, sedangkan yang tidak dipahami adalah kaifiyah(bentuk) tangan Allah.
f)     Ilhaad                   : memberikan julukan-julukan dan nama-nama kepada Allah yang tidak ada dalilnya, seperti julukan Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Ahli Filsafat menyebut Allah sebagai Penyebab Segala Sesuatu ( العلة الفاعلة) Gusti dan jenis lainnya dari makna ilhad.  



Selasa, 07 Maret 2017

Aqidah Asma' wa Sifat bagian 1






TAUHID  ASMA’  WA  SIFAT

1)       Arti dari Tauhid Asma’ wa Sifat             :
Meyakini dan menetapkan bahwa Allah “ta’ala” mempunyai nama-nama yang sangat bagus dan sifat-sifat yang sangat mulia yang tidak mungkin disamai dan disaingi oleh makhluknya, sesuai dengan keterangan Allah “ta’ala” di dalam Al Qur’an dan sesuai dengan keterangan Rasulullah “shalallahu ‘alaihi wa salam” di dalam sunnahnya yang mulia.

2)     Manfaat mempelajari Tauhid Asma’ wa sifat      :
(ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها) ... [الأعراف: 180]
180. hanya milik Allah asmaa-ul husna[585], Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.
·         Doa ada macam :
ü  Doa ibadah.
ü  Doa permintaan.

a   -  Manfaat Tauhid Asma’ wa sifat dalam doa ibadah.

(1)  Ibadah Taubat       : seorang yang beriman dengan asma wa sifat akan senantiasa bertaubat kepada Allah ta’ala dalam keadaan taat atau saat terjatuh dalam dosa, karena mengetahui salah satu nama atau sifat Allah adalah : Yang Maha Menerima Taubat yang akan menghasilkan perbuatan banyak memberi taubat.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. [An Nasr : 03]

(2)  Ibadah hatinya      : seorang yang beriman dengan asma wa sifat senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan hatinya, menghindari niatan-niatan yang kotor dan jelek, karena mengetahui Nama atau Sifat Allah, Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi di hati.
{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غَافِرٍ: 19]
19. Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat[1318] dan apa yang disembunyikan oleh hati.

(3)  Ibadah lisannya     : seorang yang beriman dengan asma wa sifat senantiasa menjaga lisannya dengan bacaan Al Qur’an, dzikir dan ucapan-ucapan yang baik, menjauhi ucapan dosa, dusta dan kotor karena mengetahui Allah Maha Mendengar.
وَإِمَّا يَنزغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ}
200. dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[590]. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. [Al A’rof : 200]

(4)  Ibadah anggota badannya                   : seorang yang beriman dengan asma wa sifat senantiasa menjaga anggota badannya untuk dipergunakan dalam ibadah dan dalam kebaikan, menjauhi dosa dan kemaksiatan atau perbuatan yang mengganggu orang lain, karena mengetahui bahwa Allah Maha Melihat.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
110. dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan. [Al Baqarah : 110].

b)    Manfaat Tauhid Asma’ wa sifat dalam doa ibadah   :
Salah satu sebab terkabulnya doa adalah, seorang hamba berdoa meminta sesuatu yang diinginkan dengan menyebut Nama Allah yang sesuai dengan permintaannya, misalnya :
( “Yaa Ngofuurur Rahiim” : Ampunilah dosa-dosaku, “Yaa Hafidzun” : Jagalah diriku dan keluargaku dari mara bahaya, “ Yaa Haady” : berilah petunjuk kepadaku jalan yang benar )

Abul Hasan Ali, Cawas 09 Jumadil Akhir 1348 H / 08 Maret 2017 M









Jumat, 03 Maret 2017

§  PENDAHULUAN AQIDAH

1.      Pengertian Aqidah secara asal bahasa (etimologi ) : “ikatan yang kuat” sedangkan secara istilah syariat Islam : “Sesuatu yang  diyakini (diikat dengan kuat ) di dalam hati manusia  dalam perkara2 agama.

2.      Apa pentingnya Aqidah:
a.      Kewajiban pertama adalah aqidah/ bersyahadat diiringi dengan keaykinan hati.
Wahai Mu’adz sesungguhnya engkau akan menemui kaum ahli kitab. Maka hendaklah hal yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah… 14.HR Bukhori 4347

b.     Kewajiban terakhir menjaga aqidah
Siapa yang akhir perkataannya laa ilaaha illallah dia akan masuk syurga15. Ibnu Hibban (719), dan disohihkan oleh syaikh Al Bani dalam Irwaaul Gholil (3/50)

c.       merupakan awal dakwah seluruh nabi dan rosul, berdasar QS Al A’rof 59 kisah awal rasul Nuh
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Rasulullah 10 tahun di Makkah fokus dakwah aqidah  

d.     aqidah merupakan pondasi amalan, amalan banyak aqidah rusak, kurang bermakna

“Akan keluar di dalam umat ini -beliau tidak mengatakan di antaranya- suatu kaum yang kalian menganggap remeh shalat kalian dibandingkan shalat mereka, mereka membaca al-Qur-an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya.” [HR. Al-Bukhari]

e.      amalan sedikit, aqidah lurus, bisa tertutupi :
“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsoiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

3.      Apa inti pembahasan aqidah : intinya adalah pembahasan rukun Iman yang enam, :
     HR Muslim
« أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره »

4.      Apa perbedaan Tauhid >< Aqidah : Tauhid lebih khusus membahas tentang dzat Alloh sedangkan aqidah lebih luas, mencakup malaikat, kitab, nabi, hari akhir dan taqdir, aqidah terhadap shahabat, aqidah terhadap pemerintah, dll.


* Pembinaan Guru-guru Al Falah, 03 Jumadil Akhir 1438 H/04 Maret 2017 © Abul Hasan Ali