Selasa, 15 Oktober 2019


Hikmah Al Qur’an 07
بسم الله الرحمن الرحيم

Rabu :
17 Shafar 1441 H
16 Oktober 2019 M

Mari kita awali hari ini dengan amalan kebaikan yang terbaik dan termulia,  yaitu mengkaji ilmu dari ayat-ayat suci Al Qur’an.

Firman Allah Ta’ala :

الم  ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa

[ Al Baqarah : 1-2 ]



Makna Ayat Ini       :
Kitab suci Al Qur’an adalah kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya maksudnya adalah kitab suci benar dan berisi kebenaran dan kebaikan, tidak ada dalam Al Qur’an kesalahan dan kejelekan.
Hikmah Ayat Ini      :
Kita harus berusaha mengikuti Al Qur’an dalam segala aspek kehidupan kita.
Seluruh ucapan kita harus kita sesuaikan dengan Al Qur’an.
Seluruh perbuatan kita harus kita sesuaikan dengan Al Qur’an.
Seluruh pendapat kita harus kita sesuaikan dengan Al Qur’an.
Walaupun pendapat Al Qur’an tersebut tidak sesuai dengan perasaan kita atau seakan-akan pendapat Al Qur’an tersebut tidak sesuai dengan akal sehat.
Kisah Umar bersama Al Qur’an :
Umar bin Al Khathab, adalah salah satu sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  suatu ketika berpidato di atas mimbar, yang beliau melarang memberikan mahar yang mahal.
Tak selang berapa lama Umar turun dari mimbarnya. Arahan kalifah yang singkat, padat dan lugas. Namun, setelah itu, tiba-tiba datang seorang perempuan dari Quraisy. Tanpa basa basi wanita itu berkata,

 “Wahai pemimpin orang Mukmin. Apakah Kitab Allah yang lebih berhak kami ikuti ataukah ucapanmu?”

Spontan Umar pun menjawab,  “Tentu al Quranlah yang lebih berhak dikuti.”
“Apa yang kamu maksudkan?” lanjut Umar.

Wanita itu berkata, “Engkau baru saja melarang untuk memberi mahar yang lebih banyak dari mas kawin Rasulullah. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

وءاتيتم إحداهن قنطارا فلا تأخذوا منه شيئا {٢٠} سورة النساء
“Dan kalian telah memberikan pada salah satu wanita harta yang banyak sebagai mas kawin……….”

Khalifah Umar langsung menerima nasehat dari wanita Quraisy tersebut. Atas saran atau bahkan bisa dikatakan sanggahan dari seorang perempuan itu, Khalifah Umar bin Khattab tidak merasa canggung, tidak malu, tidak gengsi menerimanya, bahkan Umar berkata:
كل أحد أفقه من عمر
“Setiap orang lebih paham agama daripada Umar,” kata Umar.

Ucapan itu dilontarkan Umar dan diulang-ulang dua tiga kali. Ia  kembali naik ke atas mimbar lalu berkata, “Hadirin sekalian, aku telah melarang kalian memberi mahar lebih dari mahar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketahuilah bahwa aku cabut pernyatanku. Dan sekarang lakukanlah apa yang maslahat bagi kalian. Aku tidak membatasi. Selama tidak bertentangan dengan syariat.”

Sikap yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ini adalah sikap bijak seorang pemimpin yang berpegang teguh terhadap kebenaran dan Al Qur’an walau berbeda dengan pendapat pribadinya.
Kisah di atas shohih, diriwayatkan Abu Dawud 2106, Nasai 2/87, Timidzi 1/208, Ibnu Hibban 1259, ad-Darimi 2/141, al-Hakim 2/175, al-Baihaqi 7/234, Ahmad 1/40-48, al-Humaidi 23 dari jalur Muhammad bin Sirin dari Abu ‘Ajfa’ dari Umar. Hadits ini dishohihkan oleh Tirmidzi, al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar