Rabu, 07 Februari 2018
Selasa, 06 Februari 2018
ADAB PERSAUDARAAN
DI ATAS MANHAJ SALAFIYAH
موافقة الإخوان
ومنها قلة الخلاف للإخوان، ولزوم
موافقتهم فيما يبيحه العلم والشريعة. قال أبو عثمان: (موافقة الإخوان خير من
الشفقة
عليهم).
Diantara adab persaudaraan adalah meminimalkan perbedaan diantara
para sahabat, senantiasa berusaha mencocoki mereka selama di dalam perkara yang DIPERBOLEHKAN dalam ilmu dan syariat. [bukan dalam dosa dan kemaksiatan]
Berkata Abu Utsman : “ berusaha senantiasa mencocoki para sahabat lebih utama dari menyayangi mereka”.
Berkata Abu Utsman : “ berusaha senantiasa mencocoki para sahabat lebih utama dari menyayangi mereka”.
سلامة القلب وإسداء
النصحية
ومنها سلامة قلبه للإخوان،
والنصحية لهم، وقبولها منهم، لقوله تعالى: (إِلّا مَن أَتى اللَهَ بِقَلبٍ
سَليمٍ). وقال السقطي رحمه الله: (من أجل أخلاق الأبرار سلامة الصدر للإخوان
والنصيحة لهم
Diantara
adab persaudaraan adalah berusaha menyelamatkan hati-dari kebencian-kepada para
sahabat dan memberikan nasihat kepada mereka dan menerima nasihat dari mereka,
berdasarkan firman Allah ta’ala (kecuali orang-orang yang datang kepada Allah
dengan hati yang selamat).
Berkata
As Suqthi –semoga Allah merahmatinya- :”Termasuk akhlak yang paling mulia dari
orang-orang yang baik adalah menyelamatkan hati-dari kebencian-kepada para
sahabat dan senantiasa memberi nasihat kepada mereka.
حنث الوعد
ومنها ألا يعدهم ويخالفهم، فإنه
نفاق. قال عليه الصلاة والسلام: (علامة المنافق ثلاث: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف،
وإذا ائتمن خان). وقال الثوري رحمه الله: (لا تعد أخاك وتخلفه فتعود المحبة بغضة).
Diantara
adab persaudaraan adalah jangan sampai berjanji kepada mereka kemudian tidak
menetapinya, karena termasuk kemunafikan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda “ Tanda orang munafim ada 3, jika bebicara berdusta, jika
berjanji tidak menetapi dan jika diberi amanat berkhianat”.
Berkata
Ats Tsauri –rahimahullah : “Jangan engkau berjanji kepada saudaramu kemudian
engkau tidak menetapinya, sehingga menyebabkan kecintaan menjadi
kebencian"
Referensi
:
Kitab
Adabul Israh
Karya
Abul Barakaat Al Ghozzi.
Faidah
Forum Salafy Klaten
BOLEHKAH MENABUNG DI BANK TANPA BUNGA
Pertanyaan:
Apakah boleh menabung di bank tanpa mengambil bunga?
Jawaban:
Bila memungkinkan bagi orang yang memiliki uang untuk menitipkannya kepada orang yang diperkirakan kuat tidak akan menggunakannya dalam perniagaan yang haram, maka itulah yang harus ia lakukan. Dan bila ia tidak merasa aman bila dititipkan kepadanya, dan tidak pula memungkinkan dititipkan kepada orang yang menggunakannya dalam berbagai transaksi yang dibolehkan, sedangkan ia khawatir uangnya akan hilang/dicuri, maka hendaknya ia berusaha menabungkannya di bank yang paling sedikit transaksi haramnya.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya (Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 13/342, fatwa no. 222).
=================================
Pertanyaan:
Apakah boleh menabung uang di bank-bank konvensional yang dikhawatirkan dicuri, agar dapat dicairkan pada saat dibutuhkan tanpa mendapatkan bunga sedikitpun dan tanpa dipungut dari mereka upah / uang administrasi ataukah tidak boleh?
Jawaban:
Tidak boleh menabung uang dan yang serupa di bank-bank konvensional atau badan-badan usaha yang serupa yang bertransaksi dengan riba/bunga. Baik tabungannya dengan bunga atau tanpa bunga. Hal ini karena menabung berati bahu-membahu dalam perbuatan dosa dan pelanggaran, padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. (المائدة: 2
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. al-Maidah: 2).
Kecuali bila ditakutkan uang tersebut akan hilang karena dicuri, atau dirampok atau yang serupa, sedangkan ia tidak mendapatkan cara lain untuk menjaganya selain menabungkannya di bank konvensional –misalnya-, maka dibolehkan baginya untuk menabungkannya di bank atau badan usaha yang serupa, tanpa memungut bunga, demi menjaga keselamatan uang tersebut. Perbuatan ini merupakan sikap menanggung resiko yang teringan.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. (Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 13/346, fatwa no: 4682.).
Senin, 05 Februari 2018
ADAB PERSAUDARAAN
DI ATAS MANHAJ
SALAFIYAH
حسن الخلق
حسن الخلق مع الإخوان والأقران
والأصحاب، اقتداءً برسول الله صلى الله عليه وسلم فإنه قال، وقد قيل له: ما خير ما
أعطي المرء؟ قال: (حسن الخلق).
§ Berakhlak Mulia :
Berakhlak
mulia kepada saudara, teman dan sahabat,
dalam rangka meneladani Rasulillah –shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena
sesungguhnya Beliau pernah bersabda, saat ditanyakan kepadanya : Pemberian apa
yang terbaik yang bisa dipersembahkan oleh seseorang ? Beliau menjawab : Akhlak
yang mulia.
[HR
Bukhori dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Al Hakim dan Ath Thabrany]
تحسين العيوب
ومنها تحسين ما يعانيه من عيوب
أصحابه؛ فقد قال ابن مازن: (المؤمن يطلب معاذير إخوانه، والمنافق يطلب عثراتهم)،
وقال حمدون القصار: (إذا زل أخ من إخوانك، فاطلب له تسعين عذراً، فإن لم يقبل ذلك
فأنت المعيب).
§ Memperbaiki kekurangan
Diantara
adab persaudaraan adalah memperbaiki sesuatu yang menimpa dirinya dari sebab kekurangan
yang ada pada saudaranya.
- Berkata
Ibnu Mazin : “Seorang mukmin itu senantiasa mencari udzur(alasan untuk tetap
berprasangka baik) atas kekurangan saudaranya, sedangkan orang munafik senantiasa mencari kesalahan saudaranya”.
-Abu Qilabah ‘Abdullah
bin Zaid al-Jarmi rahimahullah berkata:
إِذّا بَلَغَكَ عَنْ أَخِيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ فَالْتَمِسْ لَهُ
الْعُذْرَ جهْدَكَ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ لَهُ عُذْرًا فَقُلْ فِيْ نَفْسِكَ:
لَعَلَّ لأَخِيْ عُذْرًا لاَ أَعْلَمُهُ
“Jika sampai kepadamu
kabar tentang saudaramu yang tidak kau sukai, maka berusahalah mencari udzur
(alasan untuk tetap berprasangka baik) bagi saudaramu itu semampumu, jika
engkau tidak mampu mendapatkan udzur bagi saudaramu, maka katakanlah dalam
dirimu, ‘Mungkin saudaraku punya udzur yang tidak kuketahui.”
Referensi :
Kitab “Adabul ‘Isyrah”
Karya Abul Barakaat Al
Ghozzy.
Faidah Forum Salafy Klaten
Langganan:
Postingan (Atom)
