Senin, 22 Februari 2021
Jumat, 19 Februari 2021
Perjalanan jauh untuk ilmu
Seseorang jika ingin mendapatkan ilmu maka ia harus
keluar dari rumahnya dan mencari ilmu. Imam Bukhari berkata dalam shahihnya,
باب الخروج في طلب العلم
“Bab keluar untuk menuntut ilmu”
Seorang tabi’in terkenal Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berkata,
إن كنت لأسير الليالي والأيام في طلب
الحديث الواحد
“Sesungguhnya aku berjalan
berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”[Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/395 no.569, Darul Ibnu Jauzi,
cet.I, 1414 H]
Ibnul Jauziy berkata,
طاف الإمام أحمد بن حنبل الدنيا
مرتين حتى جمعالمسند
“Imam Ahmad bin Hambal keliling
dunia dua kali hingga dia bisa mengumpulkan musnad.”[Shaidul Khatir hal.246]
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bercerita
sendiri,
سَافَرت فى طلب الحَدِيث وَالسّنة
إِلَى الثغور والشامات والسواحل وَالْمغْرب والجزائر وَمَكَّة وَالْمَدينَة
والعراقين وَأَرْض حوران وَفَارِس وخراسان وَالْجِبَال والأطراف
“Aku mengembara mencari
hadist dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko,
Al-Jazair, Makkah, Madinah, Iraq, Wilayah Hawran, Persia, Khurasan, gunung-gunung
dan penghujung dunia.”[5]
Dari Abdurrahman, aku mendengar Ubai berkata,
أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع
سنين أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ : لم أزل أحصى حتى لما زاد على
ألف فرسخ تركته
“Tahun pertama mencari
hadits, aku keluar mengembara mencari hadits selama 7 tahun, menurut
perkiraanku aku telah berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (+ 8 km). Aku
terus terus menghitung hingga ketika telah lebih dari seribu farsakh, aku
menghentikannya.”[Al-Maqshadul Arsyad 1/113-114, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, cet.I, 1410 H ]
Ibnu mandah berkata,
طُفت الشَّرقَ وَالغربَ مرَّتين
“saya mengelilingi timur
dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali”[7]
Jumat, 29 Januari 2021
Tips Melatih Kejujuran
Tips Melatih Kejujuran
Pertama, jangan memberi respons negatif saat anak berbuat kesalahan dan mencoba untuk berkata jujur.
Alangkah baiknya jika kita tak
meresponsnya dengan bentakkan, marah atau memotong perkataan jujurnya. Hal tersebut akan
berdampak pada kondisi psikis anak kita. Bisa jadi anak tidak jujur karena takut kemarahan kita. Beri maaf telah berani jujur walaupun salah dan perbaiki kesalahannya dengan kelembutan.
Kedua, jadilah pendengar setia : dengarkan
secara menyeluruh.
Menjadi pendengar yang baik untuk
anak kita adalah tindakan yang tepat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk
respons positif untuk kejujurannya. Sekecewa apapun kita terhadap kebohongan
yang sebelumnya anak kita lakukan, janganlah membuat kita menjadi melabeli anak
kita seorang anak pembohong. Dengarkan setiap kata kejujuran dari bibir
mungilnya. Biarkan ia berproses untuk menjadi anak yang berani dan bertanggung
jawab atas kesalahannya. Buat anak kita merasa nyaman dengan kejujuran yang
telah ia ungkapankan. Ini menunjukkan bahwa kita juga belajar menjadi orangtua
yang lebih bijaksana.
Ketiga, , gunakan media lain untuk berbicara jujur.
Sewaktu kecil, mungkin karena
sudah terlanjur takut untuk berbicara jujur, saya memcoba menulis surat kepada
orangtua. Saya menuliskan setiap kata yang rasanya sulit saya ucapkan jika di
hadapan mereka. Saya nyaman dengan kejujuran saya melalui bentuk tulisan dan
surat. Dari contoh pengalaman di atas, media tulisan bisa menjadi alat yang
nyaman untuk melatih anak untuk berbicara jujur. Namun kembali lagi kepada
kita. Jika telah mendapati kejujuran anak kita itu, tanggapi dengan positif.
Sehingga ia akan tetap berusaha terbuka meskipun melalui sebuah tulisan.
Keempat, berikan pujian atas
keberanian anak untuk jujur.
Pujian bagi seorang anak merupakan hadiah
paling sederhana. Memberikan pujian pada anak sesuai dengan porsinya juga akan
menumbuhkan sikap percaya diri. Maka memberi pujian kepada anak yang telah
berkata jujur, merupakan hal yang paling tepat dilakukan. Dengan konsisten
melakukan hal tersebut, lambat laun anak pun akan tumbuh menjadi anak yang
berani berkata jujur dan lebih percaya diri. Memang terkadang jika anak kita
berbohong membuat emosi kita terpancing. Ketika anak kita berusaha terbuka dan
jujur atas kebohongannya, emosi kita akan mudah meledak karena kita sudah
terlanjur kecewa. Tanpa kita berpikir bahwa amarah yang kita luapkan itu bisa
membuat anak kita menjadi berkecil hati. Oleh karena itu ayah bunda tahan emosi
kita saat anak sedang jujur. Sehingga anak selalu merasa nyaman kejujurannya
kepada kita.
Selasa, 26 Januari 2021
orangtua pasti menginginkan
anaknya cerdas. Tapi, anak itu memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.
Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor apa sajakah itu? Berikut
faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak.
1)
Pertama, keturunan.
Banyak anak yang cerdas, pintar dan
berprestasi di sekolah. Dan sudah menjadi rahasia umum akan selalu
dihubung-hubungkan dengan kedua orangtuanya, bagaimana orangtuanya, pendidikan
orangtuanya. Tidak heran jika anak yang cerdas dan pintar karena orangtuanya
cerdas dan pintar juga. Faktor genetik menurut penelitian menyumbang terhadap
intelgensi anak berkisar 40 – 80 persen.
2)
Kedua, nutrisi
yang tepat. Anggapan bahwa
kecerdasan anak hanya dapat diturunkan oleh orangtua yang cerdas, tampaknya
perlu diubah. Sebab nutrisi yang tepat dan seimbang sangat mempengaruhi
kecerdasan anak. Asam lemak omega 3 yang terdapat dalam ikan salmon, sarden,
tuna menurut penelitian bisa menghasilkan sel-sel otak dan meremajakan fungsi
otak. Selain itu kacang-kacangan, telur, makanan laut, ayam, brokoli, alpukat
merupakan yang dapat meningkatkan kecerdasan otak.
3)
Ketiga, stimulasi.
Selain nutrisi yang berguna untuk meningkatkan
kecerdasan, stimulan-stimulan sejak dini diperlukan untuk perkembangan otak
anak. Orangtua sangat berperan dalam memberi stimulasi buah hatinya sejak
mereka bayi. Dari mengajak bermain edukatif, kreatif, mengajarkan
bersosialisasi dengan lingkungannya dan mengajak buah hati berolahraga untuk
meningkatkan kesehatan fisiknya. Para ahli berpendapat stimulan mampu
merangsang kecerdasan otak. Otak manusia terdiri dari jutaan saraf. Stimulan
diberikan sejak dini agar terjadi hubungan antara satu saraf dengan saraf yang
lainnya. Sehingga ketika memasuki usia sekolah anak akan lebih mudah menerima
dan menyimpan ilmu yang diperolah. Memberi stimulan pada anak, disesuaikan
dengan umurnya. Lebih baik sejak dini, sejak 0 tahun. Terlebih lagi pada
masa the golden age yaitu 0 – 3 tahun.
Keempat, emosi
Ikatan keluarga orangtua. Sebuah hubungan yang
positif dan harmonis antara kedua orangtua memungkinkan seorang anak merasa
aman dan disayangi. Hal ini membuat anak lebih percaya diri dan suasana
keluarga yang nyaman mendukung perkembangan otak yang sehat. Di sisi lain anak-anak
yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, akan merasa tidak
aman, takut-takut, dan bingung ketika bertemu dengan orang baru.
trauma. Trauma dapat
menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan otak bayi dan anak-anak. Contoh
trauma yang biasanya terjadi pada anak usia dini termasuk selamat dari bencana
alam, kehilangan anggota keluarga, dan mengalami penyakit kronis. Trauma juga
dapat terjadi jika anak mengalami pelecehan seksual, kemiskinan, atau memiliki
orangtua pecandu alkohol atau narkoba. Anak yang mengalami trauma akan
menghadapi masalah seperti perubahan pola makan, tidur, perubahan perilaku,
serta kesulitan bergaul dengan teman-temannya. Dukung dan dampingi anak agar
dirinya terbebas dari trauma. Jika trauma tetap bertahan dalam jangka waktu
yang cukup lama, Anda perlu membawa anak menemui ahli psikologi agar anak
terhindar dari gangguan otak akibat trauma yang kronis.
Kelima,
kesehaan fisik. Anak yang
fisiknya kuat akan memiliki otak yang sehat dan cerdas. Oleh karena itu, jangan
batasi aktivitas anak demi kesehatan fisik dan perkembangan otaknya. Anak masih
terlalu dini untuk melakukan olahraga khusus yang berat, dirinya hanya perlu
lebih aktif ketika bermain bersama teman-temannya di luar ruangan.
tidur siang. Anak membutuhkan istirahat dan tidur malam yang baik agar
otaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sejak bayi lahir hingga
tumbuh menjadi anak usia sekolah, harus memiliki rutinitas tidur yang konsisten
setiap harinya.