Jumat, 19 Februari 2021

 Perjalanan jauh untuk ilmu

Seseorang jika ingin mendapatkan ilmu maka ia harus keluar dari rumahnya dan mencari ilmu. Imam Bukhari berkata dalam shahihnya,

باب الخروج في طلب العلم

“Bab keluar untuk menuntut ilmu”

 

Seorang tabi’in terkenal Sa’id bin Al-Musayyab rahimahullah berkata,

إن كنت لأسير الليالي والأيام في طلب الحديث الواحد

“Sesungguhnya aku berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits.”[Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/395 no.569, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H]

 

Ibnul Jauziy berkata,

طاف الإمام أحمد بن حنبل الدنيا مرتين حتى جمعالمسند

“Imam Ahmad bin Hambal keliling dunia dua kali hingga dia bisa mengumpulkan musnad.”[Shaidul Khatir hal.246]

 

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bercerita sendiri,

سَافَرت فى طلب الحَدِيث وَالسّنة إِلَى الثغور والشامات والسواحل وَالْمغْرب والجزائر وَمَكَّة وَالْمَدينَة والعراقين وَأَرْض حوران وَفَارِس وخراسان وَالْجِبَال والأطراف

“Aku mengembara mencari hadist dan sunnah ke Tsughur, wilayah Syam, Sawahil, Maroko, Al-Jazair, Makkah, Madinah, Iraq, Wilayah Hawran, Persia, Khurasan, gunung-gunung dan penghujung dunia.”[5]

 

Dari Abdurrahman, aku mendengar Ubai berkata,

أول سنة خرجت في طلب الحديث أقمت سبع سنين أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ : لم أزل أحصى حتى لما زاد على ألف فرسخ تركته

“Tahun pertama mencari hadits, aku keluar mengembara mencari hadits selama 7 tahun, menurut perkiraanku aku telah berjalan kaki lebih dari seribu farsakh (+ 8 km). Aku terus terus menghitung hingga ketika telah lebih dari seribu farsakh, aku menghentikannya.”[Al-Maqshadul Arsyad 1/113-114, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, cet.I, 1410 H   ]

 

Ibnu mandah berkata,

طُفت الشَّرقَ وَالغربَ مرَّتين

“saya mengelilingi timur dan barat (untuk menuntut ilmu) sebanyak dua kali”[7]

 

Jumat, 29 Januari 2021

Tips Melatih Kejujuran

Tips Melatih Kejujuran

Pertama, jangan memberi respons negatif saat anak berbuat kesalahan dan mencoba untuk berkata jujur. 

Alangkah baiknya jika kita tak meresponsnya dengan bentakkan, marah atau memotong perkataan jujurnya. Hal tersebut akan berdampak pada kondisi psikis anak kita. Bisa jadi anak tidak jujur karena takut kemarahan kita. Beri maaf  telah berani jujur walaupun salah dan perbaiki kesalahannya dengan kelembutan. 

 

Kedua, jadilah pendengar setia : dengarkan secara menyeluruh.

Menjadi pendengar yang baik untuk anak kita adalah tindakan yang tepat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk respons positif untuk kejujurannya. Sekecewa apapun kita terhadap kebohongan yang sebelumnya anak kita lakukan, janganlah membuat kita menjadi melabeli anak kita seorang anak pembohong. Dengarkan setiap kata kejujuran dari bibir mungilnya. Biarkan ia berproses untuk menjadi anak yang berani dan bertanggung jawab atas kesalahannya. Buat anak kita merasa nyaman dengan kejujuran yang telah ia ungkapankan. Ini menunjukkan bahwa kita juga belajar menjadi orangtua yang lebih bijaksana.

 

Ketiga, , gunakan media lain untuk berbicara jujur.

Sewaktu kecil, mungkin karena sudah terlanjur takut untuk berbicara jujur, saya memcoba menulis surat kepada orangtua. Saya menuliskan setiap kata yang rasanya sulit saya ucapkan jika di hadapan mereka. Saya nyaman dengan kejujuran saya melalui bentuk tulisan dan surat. Dari contoh pengalaman di atas, media tulisan bisa menjadi alat yang nyaman untuk melatih anak untuk berbicara jujur. Namun kembali lagi kepada kita. Jika telah mendapati kejujuran anak kita itu, tanggapi dengan positif. Sehingga ia akan tetap berusaha terbuka meskipun melalui sebuah tulisan.

 

Keempat, berikan pujian atas keberanian anak untuk jujur.

 

 Pujian bagi seorang anak merupakan hadiah paling sederhana. Memberikan pujian pada anak sesuai dengan porsinya juga akan menumbuhkan sikap percaya diri. Maka memberi pujian kepada anak yang telah berkata jujur, merupakan hal yang paling tepat dilakukan. Dengan konsisten melakukan hal tersebut, lambat laun anak pun akan tumbuh menjadi anak yang berani berkata jujur dan lebih percaya diri. Memang terkadang jika anak kita berbohong membuat emosi kita terpancing. Ketika anak kita berusaha terbuka dan jujur atas kebohongannya, emosi kita akan mudah meledak karena kita sudah terlanjur kecewa. Tanpa kita berpikir bahwa amarah yang kita luapkan itu bisa membuat anak kita menjadi berkecil hati. Oleh karena itu ayah bunda tahan emosi kita saat anak sedang jujur. Sehingga anak selalu merasa nyaman kejujurannya kepada kita. 

 

Selasa, 26 Januari 2021

 

orangtua pasti menginginkan anaknya cerdas. Tapi, anak itu memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor apa sajakah itu? Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak.

 

1)    Pertama, keturunan.

 Banyak anak yang cerdas, pintar dan berprestasi di sekolah. Dan sudah menjadi rahasia umum akan selalu dihubung-hubungkan dengan kedua orangtuanya, bagaimana orangtuanya, pendidikan orangtuanya. Tidak heran jika anak yang cerdas dan pintar karena orangtuanya cerdas dan pintar juga. Faktor genetik menurut penelitian menyumbang terhadap intelgensi anak berkisar 40 – 80 persen.

 

2)    Kedua, nutrisi

yang tepat. Anggapan bahwa kecerdasan anak hanya dapat diturunkan oleh orangtua yang cerdas, tampaknya perlu diubah. Sebab nutrisi yang tepat dan seimbang sangat mempengaruhi kecerdasan anak. Asam lemak omega 3 yang terdapat dalam ikan salmon, sarden, tuna menurut penelitian bisa menghasilkan sel-sel otak dan meremajakan fungsi otak. Selain itu kacang-kacangan, telur, makanan laut, ayam, brokoli, alpukat merupakan yang dapat meningkatkan kecerdasan otak.

 

3)    Ketiga, stimulasi.

 Selain nutrisi yang berguna untuk meningkatkan kecerdasan, stimulan-stimulan sejak dini diperlukan untuk perkembangan otak anak. Orangtua sangat berperan dalam memberi stimulasi buah hatinya sejak mereka bayi. Dari mengajak bermain edukatif, kreatif, mengajarkan bersosialisasi dengan lingkungannya dan mengajak buah hati berolahraga untuk meningkatkan kesehatan fisiknya. Para ahli berpendapat stimulan mampu merangsang kecerdasan otak. Otak manusia terdiri dari jutaan saraf. Stimulan diberikan sejak dini agar terjadi hubungan antara satu saraf dengan saraf yang lainnya. Sehingga ketika memasuki usia sekolah anak akan lebih mudah menerima dan menyimpan ilmu yang diperolah. Memberi stimulan pada anak, disesuaikan dengan umurnya. Lebih baik sejak dini, sejak 0 tahun. Terlebih lagi pada masa the golden age yaitu 0 – 3 tahun.


Keempat, emosi

 Ikatan keluarga orangtua. Sebuah hubungan yang positif dan harmonis antara kedua orangtua memungkinkan seorang anak merasa aman dan disayangi. Hal ini membuat anak lebih percaya diri dan suasana keluarga yang nyaman mendukung perkembangan otak yang sehat. Di sisi lain anak-anak yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, akan merasa tidak aman, takut-takut, dan bingung ketika bertemu dengan orang baru.

trauma. Trauma dapat menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan otak bayi dan anak-anak. Contoh trauma yang biasanya terjadi pada anak usia dini termasuk selamat dari bencana alam, kehilangan anggota keluarga, dan mengalami penyakit kronis. Trauma juga dapat terjadi jika anak mengalami pelecehan seksual, kemiskinan, atau memiliki orangtua pecandu alkohol atau narkoba. Anak yang mengalami trauma akan menghadapi masalah seperti perubahan pola makan, tidur, perubahan perilaku, serta kesulitan bergaul dengan teman-temannya. Dukung dan dampingi anak agar dirinya terbebas dari trauma. Jika trauma tetap bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama, Anda perlu membawa anak menemui ahli psikologi agar anak terhindar dari gangguan otak akibat trauma yang kronis.

Kelima, 

kesehaan fisik. Anak yang fisiknya kuat akan memiliki otak yang sehat dan cerdas. Oleh karena itu, jangan batasi aktivitas anak demi kesehatan fisik dan perkembangan otaknya. Anak masih terlalu dini untuk melakukan olahraga khusus yang berat, dirinya hanya perlu lebih aktif ketika bermain bersama teman-temannya di luar ruangan.
tidur siang. Anak membutuhkan istirahat dan tidur malam yang baik agar otaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sejak bayi lahir hingga tumbuh menjadi anak usia sekolah, harus memiliki rutinitas tidur yang konsisten setiap harinya.