Minggu, 24 Januari 2021

Setiap anak yang terlahir, Allah memberikan kecerdasan dan kelebihan. Kecerdasan dan kelebihan anak berbeda-beda. Kecerdasan dan kelebihan ini harus dipahami dan distimulasi oleh orang tua serta guru untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.

Merangkum dari laman Sahabat Keluarga Kemdikbud, ada beberapa jenis kecerdasan anak: 

1. kecerdasan spiritual ekstensial (spiritual extential intelligence)

Kecerdasan  spiritual  (spiritual intelligence) mengacu pada keterampilan, kemampuan, dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan dengan sumber utama dari semua (Tuhan Yang Maha Esa), keberhasian dalam menemukan makna hidup,  mengeksternalisasi perasaan akan makna dan nilai-nilai dalam kehidupan dan dalam hubungan dengan interpersonal setiap individu. Kecerdasan Eksistensial merupakan kemampuan untuk menikmati pemikiran-pemikiran dan ingin tahu mengenai kehidupan, kematian dan realita yang ada. Anak-anak dengan tingkat kecerdasan eksistensial yang tinggi mungkin akan menunjukkan keingintahuan mengenai bagaiman bumi bertahun-tahun yang lalu, mengapa kita ada di bumi, apakah ada kehidupan di planet lain, kemana mahluk hidup setelah mati, apakah ada dimensi kehiduapn lain dan berbagai pertanyaan sejenis.

2. kecerdasan linguistik (word smart)

Anak dengan tipe word smart atau cerdas secara verbal linguistik biasanya sangat suka membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan cerita. Anak yang memiliki kecerdasan ini bisa cepat berbicara dan juga membaca dengan baik di usia dini. Untuk menstimulus kecerdasannya, ayah bunda bisa menyediakan buku anak-anak, majalah yang bisa digunting, huruf alfabet dalam berbagai bentuk dan ukuran serta mainan balok berbentuk kata-kata. Lakukan kegiatan bercerita atau membaca bersama untuk mengembangkan kecerdasannya. Sesekali boleh melakukan dialog percakapan tentang hal-hal seru yang dialaminya sepanjang hari di sekolah atau di rumah..

3. kecerdasan logika matematika (number smart) 

Anak-anak tipe number smart memiliki ciri lebih banyak tertarik dengan angka, sains dan hal-hal yang berhubungan dengan logika. Tak heran jika mereka senang berekspresimen dengan angka dan menyukai pelajaran matematika. Anak tipe ini juga senang berpikir logis. Mereka bisa menanyakan hal-hal secara detil seperti ‘Mengapa langit berwarna biru?’ Untuk menstimulasi kecerdasannya, berilah mereka benda-benda untuk dihitung, balok bertuliskan angka-angka, timbangan untuk mengukur berat, gelas ukuran, komputer atau puzzle..

4.kecerdasan visual spasial (picture smart) 

Anak yang memiliki kecerdasan gambar ini sangat suka menggambarkan apapun yang mereka bayangkan. Tak salah jika anak tipe ini sangat senang berimajinasi, menyukai seni serta senang bermain membangun sesuatu menggunakan balok. ”Designer dan penemu merupakan contoh orang yang picture smart,” jelas Dr. Armstrong. Untuk mendukung stimulusnya, ayah bunda bisa menyiapkan buku gambar, peralatan menggambar seperti cat, crayon, atau kapur warna, mainan puzzle atau kamera. Lakukan aktivitas menyenangkan seperti menggambar bersama, menonton film atau mengunjungi museum seni. .

5. kecerdasan kinestetik (body smart) 

Anak dengan tipe body smart senang mengerjakan sesuatu dengan tangan. Anak tipe ini juga sangat suka olah raga, menari, menyentuh benda-benda dan mempelajarinya. Alat stimulus yang bisa disiapkan ayah bunda antara lain kantong pasir, balok susun, peralatan senam, tali untuk bermain lompat tali atau perlatan pertukangan untuk membangun sesuatu. Lakukan aktivitas berolahraga bersama keluarga, membuat prakarya bersama, atau menonton pertunjukan teater/balet untuk mengembangkan kecerdasannya.

6. kecerdasan interpersonal (people smart) 

Anak yang people smart adalah anak yang suka bermain dengan teman-temannya, memiliki empati, suka memimpin, dan bisa memahami perasaan orang lain. Anak dengan tipe seperti ini bisa membangun hubungan interpersonal yang baik dengan setiap orang yang ditemuinya. Untuk menstimulasinya, ayah bunda bisa menggunakan boneka atau kostum untuk bermain peran. Kembangkan aktivitasnya dengan mengajaknya bermain bersama di luar rumah, main games bersama atau datang ke acara keluarga. Dari aktivitas tersebut anak akan memperlihatkan rasa peduli terhadap orang lain, senang berbagi dan senang membantu..

7. kecerdasan intrapersonal (self smart) 

Anak dengan tipe self smart memiliki rasa percaya diri yang kuat. Anak tipe ini cenderung senang bermain sendiri dan cenderung memiliki rencana pribadi untuk masa depannya kelak. Anak dengan kecerdasan ini memiliki hobi dan mampu mengekspresikan atau mengomunikasikan perasaan mereka. Untuk menstimulasinya, sediakan ruangan yang nyaman untuk dia bermain sendiri. Dukung hobinya dengan menyediakan materi-materi seputar hobinya tersebut. Kembangkan kecerdasannya dengan mengajak si kecil berbicara tentang apa yang dirasakannya. Perbanyak kegiatan yang bisa mengurangi stress si kecil salah satunya dengan yoga bersama. .

8.kecerdasan naturalis (nature smart) 

Anak dengan tipe nature smart bersifat naturalistik dan sangat menyukai alam bebas. Dia sangat senang berada di alam, senang mengoleksi dedaunan, memiliki kesadaran dan peduli terhadap lingkungan alam, dapat menggolongkan tanaman dan sangat senang dilibatkan dengan kegiatan yang berkaitan dengan alam dan lingkungan seperti berkebun. Anak dengan tipe kecerdasan ini juga senang menyukai binatang dan peduli dengan binatang sekitarnya. Untuk menstimulasinya, ayah bunda bisa menyiapkan kebun mini atau tanaman yang bisa tumbuh dalam ruangan. Ayah bunda juga bisa mengizinkan anak memiliki binatang peliharaan, alat pancing untuk memancing ikan atau alat teropong untuk melihat burung-burung. Aktivitas yang bisa dilakukan bersama yakni jalan-jalan di alam bebas, memancing bersama, memelihara binatang atau berkebung bersama..


Selasa, 19 Januari 2021

 Setiap anak adalah unik. Mengapa unik? Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki cara tersendiri yang memudahkan mereka dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi yang biasa disebut dengan belajar.

Seseorang yang belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan dirinya akan mencapai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang belajar dengan gaya belajar yang tidak sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu, sebaiknya setiap anak dapat mengeksplorasi gaya belajarnya masing-masing agar dapat mempelajari sesuatu dengan maksimal.

Adapun gaya-gaya belajar antara lain:

  1. Gaya belajar visual, menyerap informasi dengan membaca tulisan-tulisan, gambar-gambar, seperti membaca buku, mempelajari diagram, grafik ataupun video.
  2. Gaya belajar auditori, menyerap informasi dengan mendengarkan informasi-informasi yang diberikan, seperti mendengarkan ceramah/penjelasan ataupun mengikuti tanya jawab.
  3. Gaya belajar kinestetik, menyerap informasi dengan melakukan gerakan-gerakan (melibatkan aktivitas fisik) seperti mencoret-coret pada saat belajar, berjalan mondar-mandir, menggerak-gerakkan tangan, atau melakukan percobaan.
  4. Gaya belajar global, anak memiliki kemampuan memahami sesuatu secara menyeluruh. Pemahaman yang dimiliki berisi gambaran yang besar dan juga hubungan antara satu objek dengan yang lainnya. 
  5. Gaya belajar analitik, anak ini memiliki kemampuan dalam memandang sesuatu cenderung ditelaah terlebih dahulu secara terperinci, spesifik, dan teratur. Mengerjakan suatu hal secara bertahap dan urut.

Macam-macam gaya belajar berbeda setiap orang. Gaya belajar tertentu dinilai lebih dominan dan efektif dalam memahami materi atau pengetahuan. Beberapa orang yang memiliki kemampuan lebih juga mampu menyerap informasi lebih dari satu gaya belajar, namun amat jarang.

Gaya belajar tertentu memengaruhi prestasi serta kemampuan anak pada bidang tertentu. Anak dengan gaya belajar visual senang dan pandai dalam matematika, anak gaya belajar kinestetik pandai dalam olahraga, dan sebagainya. Mengetahui gaya belajar yang efektif amatlah penting untuk dapat menyelesaikan atau memanage serta mengatur tugas dengan baik.

Gaya belajar yang baik untuk seseorang tidak dapat ditentukan oleh orang lain, tetapi berasal dari pemahaman terhadap diri sendiri. Jika seseorang mempunyai indera penglihatan yang tajam dan minat terhadap warna, model, bentuk, maka gaya belajar yang cocok adalah gaya belajar visual.

Jika seseorang mempunyai kepekaan mendengarkan suara dan minat terhadap musik, maka yang efektif adalah gaya belajar auditori. Jika seseorang mempunyai tingkat keaktifan yang yang tinggi, suka bergerak dan mempunyai daya imajinasi tinggi dengan gerakan-gerakan, maka yang cocok adalah kinestetik. Sedang kemampuan seseorang dalam gaya global dan analitik merupakan kemampuan secara keseluruhan.

Agar dapat menemukan gaya belajar yang sesuai, setiap orangtua harus mau memerhatikan gaya belajar apa yang digunakan oleh anaknya. Selain orangtua, anaknya sendiri juga mau mengeksplorasi diri dengan memerhatikan setiap hal yang membuat kegiatan belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Apakah dengan membaca buku, menonton video, mendengarkan ceramah atau berjalan mondar-mandir sekalipun tidaklah menjadi masalah.

Hal yang terpenting adalah anak Anda dapat menyerap informasi dengan maksimal dengan gaya belajar yang sesuai dengan diri mereka. Janganlah terpaku dengan cara belajar yang konvensional, seperti duduk manis dan membaca buku dengan tenang. Namun, belajarlah dengan gaya belajar yang paling nyaman dan sesuai dengan diri mereka sendiri.

Dengan strategi belajar yang tepat, setiap anak diharapkan dapat semakin memahami semua materi yang dipelajarinya.

Selamat bereksplorasi.

"Seseorang yang belajar dengan menggunakan gaya belajar yang sesuai dengan dirinya akan mencapai nilai yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang belajar dengan gaya belajar yang tidak sesuai dengan dirinya."

HALAMAN :

Senin, 18 Januari 2021

Didik Anak Sesuai Bakat

 Didik Anak Sesuai Bakatnya

Ibnu Qayyim dalam Tahdzib Sunan Abi Dawud fi 'Alam Al-Fawaid menekankan pentingnya orang tua memperhatikan sejak dini bakat putra-putrinya. Orang tua harus mendukung anaknya mengembangkan bakat jangan diarahkan kepada sesuatu yang tidak diinginkannya.

"Janganlah orang tua membawa anaknya kepada pekerjaan lain selagi pekerjaan yang menjadi bakat anaknya itu diizinkan 'syara'," katanya.

Karena, di antara yang perlu dilakukan orang tua adalah memperhatikan hal ihwal pekerjaan yang kiranya menjadi bakat anak. Orang tua hendaknya tahu setiap
 anak diciptakan dengan bakat pekerjaan tertentu.

"Karena jika orangtua membawa anaknya kepada pekerjaan yang bukan bakatnya, anak itu tidak akan sukses padahal pekerjaan yang menjadi bapaknya tidak terpegang," katanya.

Ibnu Qayyim menyarankan, jika orang tua melihat anaknya, bagus pemahamannnya, benar pengertiannya, baik hafalannya, dan berkesadaran tinggi, pertanda anak itu bakat menerima ilmu. Untuk itu, hendaknyalah orang tua segera menggoreskan ilmu dalam hatinya.

"Selagi masih kosong niscaya ilmu akan melekat padanya dan berkembang bersama pertumbuhan anak itu," katanya.

Namun jika orangtua melihat anak itu tidak berbakat seperti yang ditinjau dari segala seginya, tetapi anak itu terlihat lebih cocok menjadi tentara dengan segala penunjangnya seperti ketangkasan mengendarai kendaraan, melempar dan bermain tombak, maka arahkanlah.

Melihat bakat ketentaraan, orang tua jangan memaksakan anak itu untuk menjadi seseorang yang memperdalam ilmu. Karena anak itu sudah tidak tampak mengarah kepada ilmu dan tidak diciptakan untuk ilmu.

Maka dari itu, hendaklah orang tua memberinya kesempatan anak itu untuk melakukan berbagai hal yang mengarah kepada ketentaraan dan berlatih untuknya. Dengan demikian
 bakat anak tersebut tersalurkan sehingga akan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

"Itu lebih bermanfaat baginya dan bagi kaum muslimin," katanya.

Ibnu Qayyim kembali mencontohkan, jika orang tua melihat anaknya tidak berbakat seperti itu dan tampaknya tidak diciptakan untuk itu, tapi dia perhatian anak itu mengarah kepada salah satu jenis industri dan tampaknya dia berangkat ke sana dan siap menerimanya maka dukunglah.

Apalagi pekerjaannya yang menjadi bakatnya itu tergolong halal dan bermanfaat bagi manusia, maka berilah kesempatan untuk itu. Perlu diperhatikan, itu semua dilakukan setelah anak itu diajari segala yang ia perlukan dalam soal agama.

Allah SWT telah memudahkan bagi setiap orang terhadap masalah agama, sehingga mengajari agama perlu dilakukan sejak dini kepada anak-anak agar hujjah Allah tetap tegak atas siapapun. Sesungguhnya Allah mempunyai hujjah yang kuat atas sekalian hamba-hamba -Nya seperti Dia memberi mereka nikmat yang sempurna.

"Wallahualam." tutup Ibu Qayyim.

Sabtu, 07 November 2020

 

KISAH ORANG TUA TELADAN

Nama tokoh kita hari ini adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, dikenal dengan panggilan Al Khansa’. Seorang sahabiyah sahabat wanita yang mulia.

Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak laki-laki. Melalui pembinaan dan pendidikan tangannya yang lembut, keempat anak lelakinya ini tumbuh menjadi pembela Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu para syuhada. Hal itu dikarenakan dorongannya dan didikannya terhadap keempat anak lelakinya yang gugur berjihad di medan Perang Qadisiyah.

Sebelum peperangan dimulai, terjadilah diskusi di rumah Khansa.            Di antara keempat putranya saling berebut kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka.

Keempatnya saling menunjuk yang lain untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh-musuh Allah. Rupanya perdebatan mereka itu terdengar oleh Khansa.

Maka Khansa mengumpulkan keempat anaknya dan berkata, "Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada sesembahan selain Dia, sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan seorang perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati ayahmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng kehormatan keluargamu." Maka keluarlah kalian semua berperang di jalan Allah.

Khansa berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, "Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah. Majulah paling depan, niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat, negeri keabadian.

Sesungguhnya tiada sesembahan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Inilah kebenaran sejati, maka berperanglah dan bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya kalian dianugerahi hidup yang baik."

Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik daripada negeri yang fana. Allah jalla wa ‘ala berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” 

(QS. Ali ‘Imran: 200)

Ketika sinar pagi telah terbit, kedua pasukan pun bertemu.Gugurlah orang-orang yang ditakdirkan gugur. Dan mereka yang ditakdirkan hidup, akan tetap hidup walaupun berangkat mencari kematian.

Usai peperangan, al-Khansa mencari kabar tentang putra-putranya.Kabar kematian anak-anaknya sampai kepadanya.Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap Rabku mengumpulkanku bersama mereka dalam kasih sayang-Nya.”

Sumber:
– islamstory.com/ar/
امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي

Rasulullah pernah bersabda,

“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjawab: ‘Begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969)

Ayah bunda, seperti itulah semangat Al Khansa’ dalam mendamping dan membimbing putranya dalam berjihad fii sabilillah.

Bagaimana dengan semangat kita membimbing putra-putri kita dalam belajar menuntut ilmu?

Menuntut ilmu juga merupakan bagian dari jihad fii sabilillah maka sepantasnya kita juga semangat mendampingi putra putri kita belajar di rumah, jangan mudah mengeluh dan jangan mudah putus asa.