Selasa, 06 November 2018


Metode Pendidikan Salaf # 4

[ MENGENALKAN SEJARAH NABI s]

عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ ، يَقُولُ :
" كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَرَايَاهُ كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
الجامع لأخلاق الراوي وآداب السامع للخطيب1616 :

Berkata ‘Ali bin Husain-rahimahullah- :

“ Kami dahulu mempelajari kisah peperangan Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan sejarah kehidupan Nabi, seperti kami mempelajari sebuah surat dalam Al Qur’an.

[ Al Jaami’ Li Akhlak Ar Raawi wa Aadab As Saami’ : Al Khatib ]


Faidah mempelajari Sirah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :
1.   Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak dengan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari.
2.   Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu dalam memahami Kitabullah.
3.   Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Metode mengenalkan sirah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :

1.     Membuat perpustakaan di rumah, diisi buku sirah dan lainnya.
2.     Dongeng sebelum tidur, dengan membacakan sirah Nabi.

Mari Ayah Bunda Bersama para pendidik di sekolah mengenalkan sirah Nabi kepada putra-putri kita.







Senin, 05 November 2018


Bimbingan Aqidah Untuk Pribadi dan Masyarakat :

[ JANGAN LUPA SEJARAH ]

Sejarah sangat penting untuk dipelajari dan diketahui setiap muslim, karena dengan berkaca sejarah seseorang bisa bersikap yang benar dalam menghadapi peristiwa, dengan bimbingan syariat.

-Sejarah : Hujatan pertama kepada pemerintah dalam sejarah Islam- :

Dalam SHAHIH BUKHORI :

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa beliau berkata:

‘Ali pernah mengirim dari Yaman untuk Rasulullah, sepotong emas dalam kantong kulit yang telah disamak, dan emas itu belum dibersihkan dari kotorannya. Maka Nabi membaginya kepada empat orang: ‘Uyainah bin Badr, Aqra’ bin Habis, Zaid al-Khail, dan yang ke-empat ‘Alqamah atau ‘Amir bin ath-Thufail.
Maka seseorang dari para shahabatnya menyatakan – protes dan menghujat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam  :
“Kami lebih berhak dengan (harta) ini dibanding mereka.”
Ucapan itu sampai kepada Nabi, maka beliau bersabda:
“Apakah kalian tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di langit (yakni Allah), wahyu turun kepadaku dari langit di waktu pagi dan sore”.
Kemudian datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol bagian atas kedua pipinya, menonjol kedua dahinya, lebat jenggotnya, botak kepalanya, dan tergulung sarungnya. Orang itu berkata:
“Takutlah kepada Allah wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah kemudian berkata: “Celaka engkau! Bukankah aku manusia yang paling takut kepada Allah?”
Kemudian orang itu pergi. Maka Khalid bin al-Walid berkata: “Wahai Rasulullah bolehkah aku penggal lehernya?”
Nabi berkata: “Jangan, dia masih shalat (yakni masih muslim).”
Khalid berkata: “Berapa banyak orang yang shalat dan ber-syahadat ternyata bertentangan dengan isi hatinya.”
Nabi berkata: “Aku tidak diperintah untuk meneliti isi hati manusia, dan membelah dada mereka.”
Kemudian Nabi melihat kepada orang itu, sambil berkata:
“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini sekelompok kaum yang membaca Kitabullah (al-Qur’an) secara kontinyu, namun tidak melampaui tenggorokan mereka (*yakni tidak paham makna aslinya). Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya.”
Dan saya kira beliau berkata:
“Jika aku menjumpai mereka, niscaya aku akan bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum Tsamud.”
Dalam riwayat lain:
Ketika kami bersama Rasulullah, beliau sedang membagi … tiba-tiba Dzul-khuwaishirah —seseorang dari Bani Tamim— mendatangi beliau kemudian berkata:
“Wahai Rasulullah, berbuat adil-lah!”
Rasulullah berkata: “Celaka engkau, siapa lagi yang akan berbuat adil jika saya sudah (dikatakan) tidak adil. Sungguh rugi dan rugi saya jika saya tidak bisa berbuat adil.”
Maka ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah izinkan saya untuk memenggal lehernya!”
Rasulullah menjawab:
“Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, di mana kalian merendahkan (menganggap kecil) shalat kalian dibanding shalat mereka, shaum kalian dibanding shaum mereka. Mereka membaca al-Qur’an tapi tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya ….”
[Muttafaqun ‘aIaihi, HR. AI-Bukhari no. 3344, 3610, 4351, 4667,5058, 6163, 6931, 6933, 7432, 7562; Muslim no. 1064, 1065.]

…akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yang mereka itu ahli membaca Al Qur’an, namun bacaan tersebut tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Mereka membunuhi ahlul-Islam dan membiarkan hidup (tidak mereka bunuh) ahlul-Autsan (orang-orang kafir). Jika aku sampai mendapati mereka, akan aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan terhadap kaum ‘Aad.”
[Muttafaqun ‘aIaih, HR. AI-Bukhari 3344, Muslim 1064; Abu Dawud 4764.]

Jadi jangan heran, kalau pada zaman ini ada orang-orang yang selalu mencela dan menghujat pemerintah di mimbar2 atau di sebar lewat media social.
Kalau mereka ingin membela Islam seharusnya mengikuti petunjuk ISLAM seharusnya mengikuti petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.”

(Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151).

Semoga Allah ta’ala memberi kita petunjuk jalan yang lurus.



Metode Pendidikan Salaf #3 :

[ MEMBERI HADIAH ]

روى النضر بن شميل قال: سمعت إبراهيم بن أدهم يقول: قال لي أبي: يا بني اطلب الحديث فكلما سمعت حديثاً وحفظته فلك درهم
اتحاف الخيرة المهرة في معرفة وسائل التربية المؤثرة لأم عبدالرحمن الجودر نشر مكتبة التوبة /68

Dari An Nashr bin Syumail -rahimahullah- berkata : Aku pernah mendengar Ibrahim bin Adhum berkata :
“ Ayahku dulu berkata kepadaku : Wahai putraku belajarlah hadits, setiap kali engkau mendengar hadits dan menghafalnya maka bagimu -hadiah- uang dirham”.


Ayah bunda demikian, salah satu metode Pendidikan anak dari para ulama kita Salafus Shalih yaitu dengan memberi hadiah.

Hadiah tidak harus dengan :

1. uang atau barang. Tetapi bisa berwujud : 
2. pujian “ahsanta”, “bagus” .
3. Sikap dengan “ditepuk punggungnya” di “elus kepalanya” .
4. atau berupa nilai dan tulisan “seratus” .“ bintang tiga” dan yang lainnya. 

Baarakallah fiikum.


Jumat, 02 November 2018


DOA UNTUK ORANG SAKIT

إِذَا دَخَلَ عَلَى مَنْ يَعُوْدُ قَالَ: لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.
“Apabila beliau mengunjungi orang yang sakit, beliau berkata, ‘laa ba’-sa thahuurun insyaa Allaah (tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, insya Allah).’”
 [HR. Al-Bukhari no. 5656]