Rabu, 20 September 2017

Terapi Anak Yang Sering Berkata Kasar

SAHABAT KELUARGA AL FALAH– 

Sebagai seorang muslim kita diajarkan untuk senantiasa berkata yang baik dan membiasakan anak-anak kita dan murid-murid kita berkata yang baik

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
[Al Isra : 53 ]

Tetapi kita sebagai orang tua atau guru terkadang mengahadapi kesulitan menghadapi anak yang berkata kasar karena terpengaruh pergaulan di luar keluarga dan di luar sekolah
Jika anak sudah sering berkata kasar atau mengeluarkan makian, cara menghentikannya, orang tua harus bijak dan sabar memberi perhatian terhadap hal tersebut dengan sikap yang bijak dan sabar
Sebisa mungkin tidak melakukan hukuman fisik. Jika akan menerapkan hukuman, sebaiknya sudah ada perjanjian sebelumnya, sehingga anak paham alasan dia dihukum.
Berikut cara yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk menghentikan umpatan atau makian si kecil :
1. Biasakan untuk untuk kita sendiri tidak menggunakan kata-kata kasar dalam kehidupan sehari-hari. Ada baiknya sebagai orang tua selalu menjaga perkataan dalam percakapan sehari-hari, baik saat tenang maupun saat emosi. Selalu ingat, anak batita adalah peniru ulung.
2. Jika anak mendengar kata-kata kasar dari TV atau orang lain, jelaskan pada anak jika hal tersebut tidak baik, jadi anak yang baik juga tidak akan melakukannya. Ada baiknya anak dilarang nonton TV atau terpaksa harus ada pendampingan.
3. Jika orang tua terlepas bicara kasar atau memaki lalu anak mendengarkan kata-kata tersebut, segera minta maaf pada anak dan jelaskan bahwa yang dikatakannya tadi tidak baik.
4. Alihkan atau ganti dengan kata-kata yang lebih baik. Jika anak senang mengulang-ulang makian dan sumpah serapahnya, kita bisa mencoba ‘menawarkan’ kata-kata lain yang menarik untuk diulang.
Misalnya, kata-kata kasar yang biasa diucapkan anak, ‘puuussshh-ampussshh’, bisa dialihkan menjadi ‘puuusss, puusss, meooongg!’
Misalnya anak mengucapkan kalimat, ‘jelek kayak bebek’, bisa dinetralkan menjadi ‘bebek.. kwek-kwek’.
Jika anak suka mengulang kata-kata tertentu saat marah atau kesal, kita dapat mengajarkan kata-kata baru yang sekaligus mengenalkan nama emosi, misalnya ‘kesssaalll’ atau ‘seebbaaall’. ..geeemes banget sama ustadzah…
”Jangan lupa memuji jika si kecil telah mengucapkan kata-kata yang baik,”
5. Jika anak terlanjur terbiasa memaki, buatlah perjanjian dengan anak dengan perangsang. Misalnya, jika ia bisa tidak memaki sampai waktu yang disepakati, maka akan ada sesuatu yang menyenangkan bagi anak, seperti diajak jalan-jalan atau dibuatkan makanan kesukaannya.
Sebaliknya, jika anak tetap memaki, buat kesepakatan mengenai konsekuensi yang harus dihadapi. Satu hal penting, jangan berikan sesuatu yang menyenangkan anak pada saat perilakunya buruk (memaki). Hal tersebut dapat melatih anak bahwa jika ia memaki ia tidak akan mendapatkan hal yang dia inginkan.
6. Latih anak untuk mengekspresikan perasaan tidak nyaman dengan cara-cara yang lebih positif, misalnya membiasakan komunikasi dan mengajak anak untuk mau terlibat dalam aktivitas hobby yang positif.
7. Yang tidak kalah penting adalah : jalin komunikasi yang baik antara orang tua dan guru di sekolah, jika orang tua mendapat anaknya berkata kasar di rumah, karena guru tidak mungkin bisa mengkontrol semua murid dalam waktu bersamaan.
sampaikan kepada guru, cari solusi, dari mana anak dapat kata2 tersebut? apakah dari sekoalah atau dari luar sekolah.
kalau dari sekolah...dari siapa ? perlu kita observasi dan investigasi ? perlu kita panggil orang tua dari kedua belah pihak dan usaha2 yang lainnya.
Hargai perasaan anak, dengarkanlah jika ia senang curhat. Usahakan tidak saling menyalahkan namun mencari solusi bersama-sama. Hal tersebut dapat melatih anak untuk memiliki keterampilan problem solving yang baik. 

Sumber :
Sahabat pendidikan Kemendikbud


Tidak ada komentar:

Posting Komentar