Jumat, 22 September 2017

Bila Anak Gemar Membuat Coret-coret

SAHABAT KELUARGA  AL FALAH–

Anak Anda gemar membuat coret-coret? Biarkan aktivitas itu. Mencoret merupakan bagian dari perkembangan normal menuju penghalusan kemampuan motorik halus yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan (sensomotorik).
Setiap anak memiliki prosesnya sendiri-sendiri. Kegiatan mencoret juga bisa menjadi petunjuk awal minat dan bakat menggambar atau melukis. Aktivitas ini mungkin tidak muncul pada setiap anak. 
Kegemaran mencoret mulai muncul sejak anak berusia 1,5 tahun atau ketika sudah bisa mulai memegang alat tulis dan menorehkannya pada sebuah medium seperti kertas atau lainnya.
Kegiatan itu berkembang saat anak berusia 2-4 tahun, meskipun bentuk coretannya belum bermakna apapun.
Mulai usia 4 tahun, kemampuan sensomotorik anak mulai berkembang, sehingga anak sudah lebih mampu membuat bentuk, dan orang dewasa memaknainya sebagai ‘menggambar’.
Kegemaran mencoret pada anak tidak menimbukan dampak apapun, kecuali menghabiskan berlembar-lembar kertas atau alat tulis.
Kegiatan mencoret pada anak memiliki manfaat, antara lain, pertama, melatih motorik. Tidak hanya lengan, kegiatan mencoret pun melibatkan pergerakan pergelangan tangan dan jari jemari. Dengan begitu, selain motorik kasar, motorik halus pun ikut dilatih.
Kedua, melatih kreativitas dan imajinasi. Lewat mencoret, anak dapat menuangkan apa yang ada di pikirannya, sehingga daya kreatifitasnya semakin tergali.
Ketiga, bereksplorasi tanpa batasan. Dengan diberikan kebebasan untuk mencoret, anak akan merasa bahwa ia bebas melakukan apa yang diinginkannya tanpa harus takut dimarahi. Keempat, mengasah cita rasa . Kemampuan CIT rasa yang terpendam bisa digali lewat aktivitas mencoret ini
Kegemaran mencoret anak bisa menimbulkan masalah, ketika anak mulai menuangkan coretannya tersebut pada dinding rumah. Bagaimana orang tua harus bersikap? Menurut psikolog anak, Agustina Hendriati, Msc, Psi, ada beberapa catatan dari kegiatan anak mencoret di dinding.
Jika orang tua marah dengan aktivitas anak tersebut, dampaknya anak nantinya menjadi pribadi yang tidak ekspresif, suka merasa bersalah dan takut untuk berinisiatif. Sementara, jika dibiarkan mencoret di mana saja, hal tersebut bisa membuat anak nantinya menjadi pribadi yang permisif (serba boleh).
Idealnya, orang tua menyediakan tempat untuk anak menyalurkan kegemaran mencoret sebebas mungkin.
Beberapa hal perlu diperhatikan orang tua, bila anak memiliki kegemaran mencoret, antara lain,
pertama, anak belum bisa membedakan tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Sehingga, wajar jika anak kerap mencoba menggoreskan alat tulisnya ke dinding.
Untuk memfasilitasinya, pilihlah satu ruangan atau dinding di rumah yang boleh dijadikan media mencoret. Ruangan tersebut mungkin saja berada di belakang rumah, sehingga tidak menganggu keindahan rumah. Jika tidak memungkinkan, tempelkan kertas buram di dinding atau lapisi tembok dengan kertas, sehingga anak menggunakan media kertas tersebut untuk mencoret dan dinding aman dari coretan.
Kedua, berikan penjelasan secara rinci tempat yang boleh dan tak boleh dipakai untuk mencoret. Misalnya, “Adik mencoretnya di kertas atau papan tulis saja ya. Kalau di dinding ruang tamu, nanti kotor, kan malu kalau ada tamu.” Penjelasan seperti ini dilakukan setiap kali anak ingin melakukan aktvitasnya. Lambat laun, anak akan tahu tempat untuk mencoret.
Ketiga, pilihlah alat tulis yang aman untuk anak, karena di usia lima tahun ke bawah,  anak masih suka memasukkan benda yang dia pegang ke dalam mulutnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar