Kamis, 14 September 2017

BELAJAR FIQH MUAMALAH
BAGIAN 2

[ SYARAT-SYARAT KEABSAHAN JUAL BELI ]

Syarat ke-2 dari keabsahan jual beli, adalah :

§  Penjual dan pembeli termasuk kriteria seseorang yang diijinkan syariat dalam kegiatan jual beli.

Kriteria agar seseorang diijinkan dalam kegiatan jual beli ada empat :

1.    Merdeka.
2.    Berakal sehat.
3.    Baligh.
4.    Paham.

Keterangan :

§  Budak tidak sah jual-beli yang mereka lakukan kecuali mendapat ijin dari tuan/majikannya.

Dalilnya :
مَنْ ابْتَاعَ عَبْدًا وَلَهُ مَالٌ فَمَالُهُ لِلَّذِي بَاعَهُ إِلَّا أَنْ يَشْتَرِطَ الْمُبْتَاعُ

“barang siapa yang menjual seorang budak, dan budak itu mempunyai harta, maka hartanya itu milik tuan yang menjualnya, kecuali yang membeli menyaratkan”.

لبخاري (2379) ومسلم (1543)

§  Orang yang gila atau orang idiot atau orang tua yang sudah sangat pikun, tidak sah jual-beli yang mereka kerjakan, kecuali didampingi dan diijinkan oleh wali keluarga mereka.

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ، وعن الصبي حتى يبلغ، وعن المجنون حتى يعقل" (رواه الإمام أحمد في مسنده

“diangkat pena catatan dari 3 golongan, dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai baligh, dan dari orang gila sampai waras.[ HR Ahmad ]


§  Anak kecil yang belum baligh juga tidak sah jual beli yang mereka lakukan, kecuali dengan ijin dari wali mereka.

§  Pemahaman merupakan tingkatan tambahan dari sekedar baligh, karena ada anak yang sudah baligh tetapi belum punya pemahaman yang baik tentang jual beli, paham terhadap transaksi yang dia lakukan, paham akan nilai uang, paham akan nilai barang, paham bahwa ini barang yang haram dan berbahaya atau barang yang bermanfaat.

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ۖ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا ۚ وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ ۖ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا


Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. [an nisa 6]

Dalam ayat ini disebutkan 2 syarat : baligh dan pemahaman.


Referensi :
“Kitab Syarh Mumti’, Syaikh Muhammad bin shalih Utsaimin-rahimahullah-

© Abul Hasan Ali Cawas





Tidak ada komentar:

Posting Komentar