Senin, 25 September 2017

Mengapa Anak Berbohong?



Sahabat Keluarga al Falah– 
Kejujuran sangat dijunjung tinggi di dalam syariat Islam, bagi diri kita dan juga harus kita ajarkan kepada putra-putri kita.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allâh, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur )! [At-Taubah/9:119]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ 
عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Kalian wajib berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan (ketakwaan) dan sesungguhnya ketakwaan akan mengantarkan kepada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan selalu berusaha untuk jujur maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang shiddiiq (yang sangat jujur). Kalian harus menjauhi kedustaan. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berusaha untuk berdusta, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang kadzdzaab (suka berdusta).

Mengapa anak menjadi berani berbohong? Itulah pertanyaan yang mesti dilontarkan kepada segenap orang tua dan guru.
Orang tua dan guru harus bijak dalam menghadapinya, cari sebabnya kemudian solusinya :
Ada beberapa penyebab, antara lain
pertama, adanya pengalaman yang tidak menyenangkan yang diperoleh anak dari sikap orang tua atau guru.
Mungkin mereka sering dimarahi, walau hanya melakukan kesalahan kecil. Orang tua sering berpikir anak tidak boleh melakukan kesalahan. Ketika melihat anaknya keliru mengikat tali sepatu, ia mencemooh. Ketika anak salah memasang baterai pada mainannya, orang tua memarahinya juga. Keliru  berbicara juga disalahkan. Bahkan ketika si anak terjatuh saat bersepeda, pun bisa-bisa dipersalahkan.  Bukannya anak diajari, tetapi justru dia terus-menerus dipersalahkan. Akibatnya anak akan menjadi ragu dan takut, termasuk takut  mengatakan secara jujur.
Kedua, anak takut terkena hukuman kalau bersikap jujur.
Anak-anak yang  melakukan kesalahan seringkali akan mendapat hukuman. Hukuman itu bisa ringan, bisa juga berat. Dimarahi, didenda, dibentak, bahkan ada juga yang dihukum secara fisik. Ini mengakibatkan rasa takut yang berlebihan. Anak akan merasakan hukuman itu menjadi hantu. Akibatnya mereka sering menutupi kekeliruannya dengan kebohongan.
Ketiga, kebohongan anak juga bisa karena pengalaman empiris dari orang tua sendiri.
Tak sadar seringkali orang tua berbohong  di depan anak, yang sebenarnya berpotensi akan ditiru anak.  Orang tua sering mengatakan tidak mempunyai uang saat sang anak meminta dibelikan sesuatu yang tidak ia setujui, padahal pada saat yang bersamaan, orang tua bisa membeli sesuatu yang lain. Ini tentu membuat anak melihat bahwa orang tua telah berbohong. Selanjutnya anak akan menjustifikasi bahwa berbohong itu biasa.
Keempat, anak memiliki pikiran bersalah, tetapi ia tidak mempunyai  solusi. 
 Ini juga karena orang tua dianggap tidak bisa memberi solusi. Atau kalau mempunyai solusi pun, orang tua tidak membantu tetapi justru menghukum. Akibatnya anak memilih berbohong demi keamanannya.
Kelima, tak sedikit orang tua yang merasa berbahagia, meski si anak sesungguhnya tengah berbohong.
Anak yang sering dituntut untuk menjadi hebat dalam segala hal akan memiliki kecenderungan berbohong lebih besar.  Ia sering berbohong, karena ia tak mampu memenuhi tuntutan orang tua, sementara ia tak bisa menolak. Tekanan orang tua itulah yang akan menyebabkan kebohongan.
Keenam, adanya perasaan anak tidak dihargai.
Pengakuan anak yang jujur justru seringkali tidak dihargai. Ketika anak mengatakan ulangan matematikanya di sekolah mendapatkan nilai jelek karena dia bingung, orang tua sering marah-marah. Alih-alih memberi semangat atau motivasi, orang tua memarahinya. Bahkan ketika anak memperoleh nilai 9 dan bukan10 pun, anak tetap dimarahi dan tidak dihargai. Maka ketika anak kemudian tidak  mengatakan yang jujur, lantas siapa yang disalahkan?
Jadi bagaimana seharusnya?
Dengarlah anak ketika ia akan mengatakan yang sejujurnya.
Berilah ia penghargaan ketika anak mengatakan yang jujur, meski itu sebuah kesalahan.
Jangan membentaknya, menyalahkannya, dan tak mendengarkan pendapatnya. Jangan sampai anak menjadi merasa tak berguna berkata jujur  kepada orang tua. Hal yang paling parah, jika si anak kemudian menjatuhkan pilihannya untuk selalu berbohong demi mengamankan dirinya. Itu hal terburuk yang tidak diinginkan oleh siapapun.

Sumber :
Sahabat pendidikan Kemendikbud


Tidak ada komentar:

Posting Komentar