Senin, 25 September 2017

Sopan Santun bagi Si Kecil Yang Harus Diperhatikan Orang Tua




SAHABAT KELUARGA AL FALAH– 
Anak-anak perlu diajarkan sopan santun sejak dini. Beberapa perilaku anak mungkin terlihat biasa saja, atau bahkan beberapa orang tua menganggap perilaku tersebut sebagai kenakalan kecil yang akan hilang seiring pertumbuhan usianya.
Padahal, jika hal tersebut dibiarkan, perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan yang akan sulit dihilangkan hingga mereka dewasa nanti.
Di dalam agama kita yang mulia, dienul Islam, sopan-santun terbagi menjadi 2 macam :
1.    sopan-santun yang berkaitan dengan diri sendiri.
2.    Sopan santun yang berkaitan dengan orang lain.

§  SOPAN SANTUN BERKAITAN DENGAN DIRI SENDIRI :
1. tata cara makan.
Petunjuk Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- berkaitan dengan sopan santun dalam makan.
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah “BISMILLAH”), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu.
(HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

terkandung 3 macam sopan santun :
- membaca bismillah sebalum makan.
- makan dengan tangan kanan.
- makan dari arah yang terdekat.

2. Minum sambil duduk
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh melarang dari minum sambil berdiri.” (HR. Muslim no. 2024).


§  SOPAN SANTUN DENGAN ORANG LAIN


1. Mengganggu Saat Orang Tua Berbicara
Anak kadang sangat antusias ingin menceritakan sesuatu pada orang tuanya tanpa melihat kondisi Anda yang mungkin sedang berbincang dengan orang lain. Dengan kata lain, anak memotong pembicaraan Anda agar perhatian orang tuanya segera teralihkan padanya.
Hal itu tentu saja tidak sopan. Dengan memotong pembicaraan, berarti anak tidak memikirkan kepentingan orang lain yang sedang berbicara. Dampaknya anak akan menjadi egois dan merasa berhak mendapatkan perhatian yang ia inginkan. Sebagai orang tua, Anda tidak boleh mengabaikan hal tersebut.
Cara mengatasinya:
Beritahu padanya bahwa memotong pembicaraan merupakan sikap yang buruk dan tidak boleh dilakukan. Jika masih dilakukan, hukum anak dengan memintanya duduk tenang atau berdiri di pojok sampai Anda selesai berbincang. Katakan padanya, dia tidak akan mendapatkan apa yang dia minta jika masih memotong pembicaraan orang lain.
2. Bermain Kasar
Saat bermain bersama temannya, Anda melihat si kecil melakukan tindakan kasar seperti mendorong, mencubit atau memukul. Meski akibat yang ditimbulkannya tidak terlalu parah, Anda sebagai orang tua harus segera menghentikannya.
Penasehat parenting Michele Borba, Ed.D berkata, ”Jika Anda tidak menyela saat anak bermain kasar, maka ia akan terus melakukan kekasaran tersebut hingga menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Jika dibiarkan terus menerus, anak akan berpikir bahwa menyakiti orang lain dibolehkan,”
Cara Mengatasinya:
Hadapi perilaku agresifnya di tempat itu juga. Tarik anak Anda menjauh dari temannya dan katakan padanya bahwa yang dilakukan itu telah menyakiti temannya. Latih dia untuk mengerti bahwa setiap tindakan yang menyakiti orang lain tidak diperbolehkan.
Sebelum janji bermain berikutnya, ingatkan dia bahwa tidak boleh bermain kasar. Jika masih melakukan hal yang sama, larang dia untuk bermain sampai dia bisa merubah perilakunya.
3. Pura-pura tidak mendengar Anda
Saat anak Anda berpura-pura tidak mendengar apa yang ada minta, ulangi perintah tersebut dua atau tiga kali agar anak mengerti bahwa perbuatan itu tidak boleh.
Menurut psikolog Kevin Leman, Ph.D., “Mengingatkan anak Anda lagi dan lagi akan melatih dia untuk menunggu peringatan diri Anda dibanding mendengarkan sejak awal apa yang Anda suruh. Jika Anda membiarkan perilaku ini, anak Anda mungkin menjadi penantang dan pengendali,”
Cara Mengatasinya:
Daripada berteriak pada anak, lebih baik Anda menghampiri dan katakan padanya apa yang perlu dilakukan. Buat dia melihat ke arah Anda dan menanggapinya dengan mengatakan, “Baik, bu”. Anda juga bisa lakukan dengan cara menyentuh bahunya, mengatakan namanya,untuk mendapat perhatian darinya.
Cara sederhana lainnya, jika anak tak juga mematuhi ucapan Anda, katakan padanya bahwa Anda akan membatasi permainannya atau kesukaannya.
4. Mengambil Sesuatu tanpa Ijin
Anak kecil belum terlalu memahami arti kepemilikan. Beberapa anak memiliki keegoisan besar. Jika ingin sesuatu barang, dia akan merengek demi mendapatkan barang tersebut.
Tak heran jika anak sering berebut mainan dengan temannya demi mendapat sesuatu yang diinginkannya. Awalnya mungkin menggemaskan, tetapi jika berlanjut sampai dewasa, hal tersebut akan mengkhawatirkan. Bukan tak mungkin juga akan berkembang menjadi penyakit kleptomania.
Cara Mengatasinya:
Buat peraturan kecil di rumah dengan anak Anda yang membuatnya mengerti bahwa dia harus meminta izin saat melakukan apapun. Misalnya, saat Anda sedang membaca buku, tiba-tiba anak Anda datang dan mengambil buku tanpa izin terlebih dahulu. Jelaskan padanya bahwa apa yang dia lakukan tidak baik dan dapat menyinggung seseorang. Membuat peraturan tegas seperti itu akan meredam dia untuk melakukan sesuatu tanpa seiizin pemilik.
5. Bersikap Kurang Baik
Mungkin Anda tidak sadar ketika anak memutar matanya atau menggunakan nada tidak sopan ketika berbicara pada seseorang saat usia praremaja. Perilaku tersebut sering mulai ketika anak berusia dini karena meniru teman yang lebih tua untuk menarik perhatian orang tua mereka.
”Beberapa orang tua mengabaikannya karena mereka pikir itu akan hilang seiring perkembangan waktu. Jika tidak segera dihentikan, maka anak akan sulit mendapatkan teman dan tidak bisa berhubungan baik dengan gurunya di sekolah karena sering tersinggung dengan perilakunya,” kata Dr. Dorba.
Cara Mengatasinya:
Beritahu anak bahwa perilaku tersebut tidak baik. Katakan padanya, bahwa ketika dia memutar mata seperti itu saat orang lain berbicara, orang tersebut akan menganggap seolah-olah kamu tidak menyukai apa yang sedang saya katakan, hal itu akan membuat tersinggung orang lain.
Jika masih terus diulangi, Anda bisa menolak untuk berkomunikasi dengannya sampai dia merubah perilakunya.
6. Melebih-lebihkan Fakta
Perilaku ini sama dengan berbohong sehingga termasuk kategori perilaku anak yang harus mendapat perhatian khusus orang tua.
Kata-kata yang dikeluarkan anak kebanyakan berbeda dari kenyataan. Seperti misalnya dia telah membereskan tempat tidur padahal selimutnya masih berantakan. Atau dia berkata pada temannya bahwa dia telah pergi ke luar negri padahal naik pesawat pun belum pernah.
Kelihatannya tidak masalah, namun jika dibiarkan bisa membuatnya memiliki kebiasaan berbohong hingga dewasa kelak.
Cara Mengatasinya :
Ajaklah berbicara, tanyakan kepadanya alasan dia berbohong. Katakan padanya, jika ia selalu berkata bohong, orang tidak akan percaya apapun dengan yang akan dikatakannya suatu hari nanti.
Ceritakan juga kisah seorang anak yang selalu menceritakan kisah bohong pada ibu dan orang-orang sekitarnya. Ketika anak itu benar-benar mendapat bahaya, tak seorangpun mau menolongnya karena semua orang menganggap anak itu sedang berbohong.

Perilaku yang terjadi pada anak mungkin terlihat sederhana, tapi jika diabaikan bukan tidak mungkin akan menjadi hal buruk bagi anak di masa depan.
Teruslah bersikap sabar, peka dan selalu peduli dalam mendidik anak. Cintai mereka dengan tulus dan sepenuh hati. Kerja sama dengan guru.. doakan mereka…

Sahabat pendidikan kemendikbud


Tidak ada komentar:

Posting Komentar