Selasa, 24 Oktober 2017

MARI MENGGAPAI
DERAJAT IHSAN


Derajat ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.

Allah berfirman kepada NabiNya :


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.  Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui(QS Asy-Syu'aroo : 17-20)

Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk),
Ihsan terbagi menjadi 2 macam :

1.     Ihsan berkaitan dengan sesama :
yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan menahan diri dari dosa. Dia mendermakan kebaikan kepada hamba Allah yang lainnya baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun raganya.

2.     Ihsan berkaitan dengan Allah ta’ala :
Adapun yang dimaksud ihsan bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada Allah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril :

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »
“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102)

Tingkatan Ihsan
Adapun kadar ihsan yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada Allah memiliki dua tingkatan, yaitu :

Pertama, tingkatan muroqobah.
Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
(jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu).

Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut.

Kedua, tingkatan musyahadah
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang senantiasa memeperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda Nabi
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاه
(‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya).

Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, tidak sebagaimana keyakinan orang-orang sufi. Yang mereka sangka dengan tingkatan musyahadah adalah melihat dzat Allah. Ini jelas merupakan kebatilan. Yang dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat Allah, yakni dengan memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.

Contoh dalam kehidupan kita sehari –hari :

·        Kita rekreasi melihat pemandangan yang indah, maka kita teringat,
(إن الله جميلٌ يحب الجمال،

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, 


[ HR Muslim ]
          Dengan itu akan menambah keimanan kita.

·         Kita melihat bangunan yang tinggi, besar, mengagumkan, kita  teringat,
الله اكبر
[ Allahu Akbar ]
Allah lebih besar, semakin menambah iman kita.

·         Kita bertemu dengan orang  yang sangat baik, maka kita teringat,
الله كريم
[ Allah Maha Baik ]
          Bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan dengan orang yang baik, dan tentu saja Allah lebih baik.

·         Kita bertemu dengan orang yang jahat, sikap, ucapan dan perilakunya menyakiti  hati, maka kita teringat,
الله سميع بصير
[ Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat ]
          Allah yang akan membalasnya dan meminta pertanggung jawaban kepadanya.

·         Kita sebagai orang tua sedang  kesulitan finansial, anak-anak kita meminta bayaran SPP, kita teringat,
الله غني
[ Allah Maha Kaya ]

Pasti akan memberi kemudahan dan kecukupan bagi kita, menambah iman kita,

Segala sesuatu kejadian yang disaksikan, akan menambah ketebalan iman bagi orang yang IHSAN
Mari kita berusaha mempraktekannya...


Abul Hasan Ali Cawas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar