Minggu, 03 November 2019


Strategi Penumbuhan Karakter Kepada Anak

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
-surat-al-qalam-ayat-4.

SAHABAT KELUARGA AL FALAH-

Penguatan Pendidikan Karakter semakin mencuat dengan diterapkannya Kurikulum 2013 oleh pemerintah. Penerapan K 13 juga menunjukkan mulai seriusnya pemerintah kita dalam perbaikan karakter anak bangsa, terutama karakter spiritual dan moral.

Bagaimana bentuk dan strategi pendidikan karakter yang efektif alias berdaya dampak pada perubahan karakter siswa?

Metode pembelajaran karakter tidaklah sama dengan pembelajaran untuk mencerdaskan siswa. Apalagi di zaman yang serba internet saat ini. Siswa dapat memperoleh pengetahuan secara mudah tanpa guru sekalipun, dengan melalui membaca, searching di google, bahkan melalui media sosial lebih menarik.

berbada dalam penumbuhan karakter butuh belajar langsung dan bimbingan dari para guru.

Ibnul Mubarok berkata,
تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين
“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun -langsung dari guru-sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”


Lalu bagaimana kiat dan tips karakter dapat ditumbuhkan?

1.  Keteladanan, memberi model dan contoh bagi anak :

Harus ada figur yang bisa menjadi contoh baik dan keteladanan, baik di sekolah dari para guru dan di rumah dari para orang tua. Karena anak kecil tidak bisa memahami perintah yang abstrak, harus ada sesuatu yang kongkret untuk bisa dilihat.

Jika guru dan orang tua ingin menumbuhkan karakter yang baik kepada anak, maka mereka dulu yang harus terlebih dulu melakukan dan memberi contoh.

Misalnya : ingin menumbuhkan karakter rajin shalat dhuha pada anak, tidak bisa jalan hanya sekedar perintah : “ sana nak shalat dhuha dulu!

Tanpa diberi contoh, maka guru dan orang tua harus rutin dan disiplin mengerjakan terlebih dulu sebelum mengajak kepada anak.

2.  Pembiasaan rutin   :

Karakter yang baik akan bisa tumbuh dari seorang anak, jika dibiasakan dan rutin dikerjakan.

Misalnya : ingin menumbuhkan karakter rajin shalat dhuha pada anak, setelah memberi keteladanan, maka anak dibiasakan rutin untuk mengerjakan. Di sekolah misalnya setiap sebelum pelajaran setiap hari murid dibiasakan berwudhu dan shalat dhuha. Di rumah saat liburan orang tua juga selalu mengingatkan setelah mandi dan berwudhu, selalu kerjakan shalat dhuha.

3.  Kata-kata positif yang mampu mempengaruhi pola pikir :

Berupa nasihat jika ada pelanggaran dan keteledoran, dengan pendekatan personal.

Kenapa nak, hari ini tidak shalat dhuha? Mungkin sedang sakit, mungkin sedang sedih, maka didekati, beri evaluasi dan solusi.

Juga beri doa kebaikan bagi yang rajin mengerjakan: “baarakallah fiikum” “ahsanta” dll.

Kata-kata positif juga bisa berupa poster yang ditempel di kelas atau di rumah “ Anak Shalih rajin shalat dhuha “ misalnya…yang selalu bisa dilihat setiap hari.

Maka dengan pembiasaan ini, lambat laun amalan tersebut akan menjadi karakter yang selalu dikerjakan.


Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

SDS IT ALFALAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar