Rabu, 13 November 2019


Mencegah Radikalisme Bagi Remaja

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“.
(QS. Al Baqarah: 195).


SAHABAT KELUARGA AL FALAH-

Pernahkah kita jeli mengamati, bahwa para pelaku bom bunuh diri dan teroris sebagian besar merupakan anak muda di bawah 30 tahun. Yang baru terjadi di Medan, berusia 24 tahun, teror di Sarinah, Jalan Thamrin. Salah seorang pelakunya  ternyata bernama Afif Sunakim yang baru berusia 20 tahun dan pelaku lain adalah Ahmad Muhazan. Pelaku peledakan dan lantas bunuh diri di sebuah gerai kopi itu baru berusia 25 tahun.  Contoh lain adalah Nana Ikwan Maulana, pelaku bom bunuh diri di JW Marriot, Jakarta tahun 2009 lalu. Ia ternyata baru berusia 28 tahun. .

Kita makin terhenyak dan tak habis pikir, para pelaku peledakan bom bunuh diri di Surabaya beberap tahun lalu, di tiga tempat itu masing-masing merupakan satu keluarga. Pada peledakan bom di tiga gereja, pelakunya merupokan pasangan suami istri dam empat orang anaknya. Di Sidoarjo, satu keluarga dengan dua anak diketahui juga pelaku peledakan, sedangkan di Mapolresta Surabaya, pelaku peledakan juga merupakan satu keluarga dengan tiga orang anak, namun satu diantaranya selamat karena terlempar. Bagaimana dengan pola pendidikan dan pengasuhan mereka sehingga bisa memiliki paham radikal? .

Pertama : Bentengi Anak Dengan Pendidikan Agama Yang Benar.

Pelaku bom bunuh diri, pelaku peledakan dan pelaku terorisme semuanya dari orang orang yang mempunyai pemahaman agama yang sempit, dan pemahaman agama yang dangkal.
Karena Islam tidak pernah mengajarkan bunuh diri dan membunuh orang Islam yang lain tanpa sebab yang benar.
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa: 93)
Maka dengan pemahaman agama yang benar dan lurus, otomatis mampu mencegah kejahatan tersebut.
Orang Tua wajib rajin mengaji untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tanpa mengaji bagaimana orang tua bisa tahu.

Pilih sekolah yang mengajarkan agama yang benar, agama yang lurus dan mendalam. Lihatlah gurunya, lihatlah kurikulum, lihatlah buku pelajarannya.

Kedua  : Selektif Dalam Memilih Teman.

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Khususnya dalam kajian kelompok kelompok keagamaan, seperti kerohanian, mentoring khususnya yang melibatkan pihak pihak luar sekolah dan orang tua.



Ketiga : Memperkuat Komunikasi Dan Sosialisasi.

Jika melihat anak tiba-tiba mengurung diri, tidak mau bergaul dan bersosialisasi dengan keluarga maka segera tanggap ada masalah apa dan cari solusinya.
Juga di dalam masyarakat jika menemukan sebuah keluarga, anak anaknya tidak sekolah, orang tua tidak mau bergaul dengan masyarakat sama sekali, menutup diri, ini tanda yang kurang baik.
Diantaranya juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
المؤمنُ الذي يخالطُ الناسَ ويَصبرُ على أذاهم خيرٌ منَ الذي لا يُخالطُ الناسَ ولا يصبرُ على أذاهمْ
Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365,




Tidak ada komentar:

Posting Komentar