Selasa, 05 November 2019


Menghadirkan Energi Ibadah Dalam Keluarga :

SAHABAT KELUARGA-

Ada sebuah kisah nyata dalam keluarga, diceritakan seorang ayah : pekerjaan yang banyak dan harus segera diselesaikan, membuat saya harus keluar kota beberapa hari. Kemudian pulang malam, tidur malam, sehingga bangun tidur tidak bisa lebih pagi dari biasanya.

Yang membuat sedih, saya jarang bercakap dan bermain dengan anak-anak. Pagi itu saya bangun terlalu siang. Itu saja yang membangunkan Nera, ”Ayah, bangun. Disuruh ibu salat Subuh dan antarkan Kakak Mafi dan Nera ke sekolah!” Saya segera bangun mengambil air wudhu, salat Subuh, dan menyiapkan segala sesuatunya. Saya pun mengantarkan Mafi dan Nera ke sekolah.

Di tengah jalan saya bertanya, ”Tadi salat Subuh sama siapa?” ”Ibu!” jawab Mafi dan Nera serentak. ”Semalam salat Maghrib dan Isyanya?” tanya saya kembali. ”Maghrib di musala….,” Mafi menghentikan kata-katanya. ”Kak Mafi dan Nera ketiduran, Yah. Tidak salat Isya. Lupa, Yah,” Nera menjelaskan pelan. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Saya menyalahkan diri saya sendiri yang beberapa hari terlalu sibuk.

Selepas mengatarkan anak-anak ke sekolah, di rumah saya berbincang dengan Istri. ”Apa yang terjadi dengan salatnya anak-anak selama ayah disibukkan dengan pekerjaan?” tanya saya. ”Anak-anak semangat salatnya menurun. Lebih asyik bermain. Jika diingatkan sering dicuekin. Dan saat malam, sebelum Isya lebih dulu tertidur,” Istri menjelaskan panjang lebar.

Saya pun terdiam. Pangkal salahnya adalah saya: Tidak bisa menghadirkan dan menjaga energi ibadah dan semangat salat anak-anak di keluarga.

Anak-anak adalah individu yang menyerap. Akan selalu bisa menyerap kejadian di lingkungannya dan tidak terkecuali energi dari orangtuanya. Di sinilah, tugas orangtua tidak melulu soal menasihati, mendidik, memberi, dan mengasihi, akan tetapi harus mampu menghadirkan energi atau semangat, termasuk semangat dalam menjalankan ibadah salat.

Saya teringat hari-hari sebelumnya, saat terdengar adzan, kemudian saya mengambil air wudhu, terus berkata, ”Saatnya salat!” Maka anak-anak akan bersegera salat mengikuti saya. Kami pun berangkat salat berjamaah di musala dengan penuh bahagia. Waktu lainnya di rumah selalu saya isi dengan berdiskusi, bermain, sampai membacakan, dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang semakin menegaskan kehadiran suasana semangat religius untuk salat dalam keluarga.

Bahkan, tidak hanya sampai di situ, saat saya sendiri sedang senang dengan salat, maka anak-anak pun mengikuti hal yang sama. Ini menunjukkan kehadiran semangat dan energi salat ini diserap dan dipahami oleh anak. Sehingga mereka pun mendapatkan energi salat yang sama dari orangtuanya. Energi inilah yang kemudian menggerakkan anak-anak melakukan hal yang sama dengan orangtuanya. Jadi, jika ada keluarga yang semangat dan suasana salatnya tidak ada, itu terjadi karena orangtuanya tidak mau dan mampu menghadirkan energi salat dalam keluarganya.
Kita pun pasti banyak melihat fenomena, anak-anak yang sejak kecil rajin salat karena orangtua yang setiap hari memberikan contoh dan energi salat juga pada anak-anaknya. Sebaliknya, anak-anak yang perilaku salatnya tidak konsisten, bisa jadi bukan karena orangtuanya tidak menyuruh dan memberi contoh. Tapi, orangtuanya tidak mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana untuk salat. Kita pun banyak melihat kejadian di keluarga yang orang tuanya rajin salat, tetapi anak-anaknya tidak mengikuti.

Anak Cerminan Orangtua Di sinilah, menghadirkan semangat salat menjadi kunci penting dalam membimbing anak-anak untuk rajin salat. Menghadirkan semangat ini harus dilakukan dengan  memberikan contoh, menunjukkan semangat dan menyenangkannya salat, selalu berdiskusi tentang ibadah dan salat dengan anak, sampai selalu berkisah tentang Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dengan cara ini suasana semangat untuk melakukan ibadah salat diciptakan dan dijaga secara baik.
Anak-anak kita pun akan menyerap semangat itu sehingga menjadi energi yang menggerakkan mereka untuk selalu menunaikan salat sebaik mungkin. Saya pun mendadak teringat kejadian beberapa lalu saat terdengar kumandang adzan. Saya bergeas berganti baju, kemudian mengambil air wudhu, dan mengajak anak-anak salat berjamaah. Anak-anak pun bergegas melakukan hal yang sama. Kemudian kami salat berjamaah.
Rasanya kenyataan itu sangat bahagia dan menyenangkan. Saat kemudian terjebak dalam pekerjaan, saat energi salat tidak bisa saya hadirkan dan jaga di keluarga secara baik, saya pun mendapatkan kenyataan pahit ini. Anak-anak semangat salatnya menurun. Anak-anak menyerap kenyataan ayahnya yang sedang kehilangan semangat ibadahnya. Di sinilah anak-anak harus diakui menjadi cermin dan miniatur kenyataan keimanan orangtuanya.

Jika orangtuanya mampu menghadirkan dan menjaga semangat dan suasana salatnya secara baik, anak-anak pun akan demikian. Tapi, sebaliknya, jika orangtua gagal menghadirkan dan menjaga suasana salatnya secara baik, maka anak-anak akan kehilangan arah.

Saya pun tertunduk sedih menyaksikan kenyataan ini. Istri saya tahu keadaan ini, dia pun berkata, ”Nanti selepas anak-anak pulang sekolah hadirkan kembali semangat dan suasan salat seperti kemarin. Pasti anak-anak akan paham dan mengerti. Dan semangat dan suasana salat akan hadir kembali di keluarga kita.” Aku menganggukkan kepala. Anak-anakku telah mengajariku cara bertobat dengan sikap-sikap yang istimewa. Semoga menginspirasi.  Silakan bagikan artikel ini:

TwitterFacebookWhatsAppLine.
SDS IT ALFALAH


Tidak ada komentar:

Posting Komentar